Tingginya Tingkat Stress Membuat Otak Menjadi Tua Lebih Dini

Tingginya Tingkat Stress Membuat Otak Menjadi Tua Lebih Dini

Bila ada yg mengatakan bahwa stress adalah cikal bakal dari berbagai macam penyakit, maka sebaiknya Anda mempercayainya. Karena faktanya, stress memang adalah awla dari berbagai hal buruk yg terjadi pada kesehatan makhluk hidup. Tak hanya manusia, bahkan juga hewan dan tumbuhan.

Karena itu, orang dengan tingkat stress cenderung tinggi juga memiliki masalah kesehatan yg lebih buruk ketimbang mereka yg menjalani hidup dengan santai dan enjoy.  Beberapa waktu lalu para peneliti menyebutkan bahwa stress menjadi salah satu pemicu terjadinya serangan jantung. Bahkan stress juga diketahui berefek pada kecantikan kulit, rambut dan tubuh seseorang.

Nah baru-baru ini penelitian juga membuktikan bahwa stress bisa membuat otak jadi lebih tua beberapa tahun dari usia sebenarnya. Fakta ini menambah panjang daftar penyakit yg bisa disebabkan oleh stress, terutama stress jangka panjang.

Pada dasarnya setiap orang memiliki tingkat stress yg berbeda-beda. Namun yg harus sangat diwaspadai adalah stress berat yg dialami seseorang pada saat usia relatif muda. Hal ini biasanya terjadi lantaran perceraian orang tua, kematian atau bahkan pindah sekolah. Hal-hal seperti ini diketahui bisa mempengaruhi fungsi kognitif di masa mendatang.

Beberapa waktu lalu tim dari University Winconsin School of Medicine and Public Health melakukan penelitian pada 1.320 orang yg melaporkan mengalami stres selama masa hidup mereka. Pada orang-orang ini para peneliti menjalani tes neuropsikologis untuk mengukur kemampuan berpikir dan daya ingat mereka.

Para peserta yg mengikuti penelitian ini rata-rata berusia 58 tahun dan mereka semua memiliki tingkat stres yg tinggi, seperti kehilangan pekerjaan, kematian anak, perceraian, hingga masa kecil tidak bahagia yg menyebabkan trauma.

Tes ini sendiri meliputi beberapa area, antara lain ingatan langsung, pembelajaran verbal dan ingatan, pembelajaran visual dan ingatan serta kemampuan untuk menceritakan kembali. Hasilnya menunjukkan bahwa stress berat memiliki hubungan erat dengan fungsi kognitif yg lebih buruk di masa mendatang.

Perisitwa penyebab stress yg dipusatkan oleh para peneliti ini sangat bervariasi, mulai dari kematian orang tua, pelecehan, kehilangan pekerjaan dan rumah, kemiskinan dan tempat tinggal yg tak baik untuk tumbuh dan berbagai alasan lainnya.

Gaya Hidup dan Pola Makan Sehat Bisa Membantu Kurangi Resiko Menuanya Otak

Penelitian ini menyimpulkan bahwa khusus orang Afrika Amerika mengalami 60 persen kejadian yg lebih berat daripada orang Kaukasia selama masa hidup mereka. Dijelaskan bahwa setiap pengalaman stress  orang Afrika Amerika setera dengan empat tahun penuaan kognitif. Dengan kata lain bahwa penuaan pada otak mereka terjadi lebih cepat dari seharusnya.

Selain itu juga disebutkan bahwa kecemasan den depresi juga memiliki kontribusi besar terhadap resiko demensia. Stres dalam jangka panjang bisa memicu efek inflamasi atau peradangan pada sel- sel tubuh. Kondisi ini dianggap mempercepat timbulnya demensia.

Namun para ahli meyakini bahwa memperbaiki gaya hidup dan pola makan sehat bisa membantu mengurangi resiko tersebut. Bahkan bagi orang-orang yg mengalami peristiwa stress dalam hidupnya.

Dengan melakukan olahraga teratur dan mengkonsumsi makanan sehat dan bernutrisi, seseorang bisa mencegah resiko demensia secara signifikan. Selain itu juga disarankan untuk tetap bersosialisasi dengan lingkungan sekitar serta melatih otak dengan permainan seperti puzzle dan lainnya agar otak tetap terlatih.

Begitu juga halnya dengan tidur. Kualitas tidur yg baik juga sangat menentukan bagaimana daya ingat seseorang bisa bertahan. Karena itu dengan mendapatkant tidur yg cukup dan berkualitas, resiko demensia juga bisa berkurang sangat signifikan. Selain itu, tidur cukup juga akan membuat tingkat stress menjadi lebih rendah.