Deretan Film-Film Ini Akan Membuka Mata Kita Mengenai Ketimpangan Pendidikan Indonesia

Isu mengenai pendidikan Indonesia yang kurang merata memang sudah menjadi cerita dari jaman dahulu. Hal ini dikarenakan kurangnya sumber daya seperti guru, sekolah, dan berbagi macam fasilitas pendidikan. Bahkan beberapa daerah di Indonesia memiliki keterbatasan pendidikan sehingga menyebabkan masih banyaknya buta huruf di Indonesia. Mungkin bagi anda yang tinggal di kota kota Besar tidak akan pernah melihat atau merasakan kondisi tersebut. Namun anda bisa melihat cerita cerita mengenai ketimpangan pendidikan Indonesia melalui film-film dibawah ini.

Film Pendidikan Indonesia

Denias Senandung Diatas Awan, Pendidikan Indonesia di Tanah Papua

Dengan menggunakan latar belakang tanah Papua, film ini menceritakan kisah Denias yang berjuang untuk bisa mendapatkan pendidikan yang cukup layak. Kisah di dalam film ini benar benar memperlihatkan mengenai pendidikan yang terjadi di Indonesia. Bahkan film ini langsung diangkat dari kisah nyata Janias, anak yang tinggal di Papua. Kisah ini benar benar penuh dengan inspirasi terutama bagi anak anak lainnya yang juga berjuang dalam mencapai impiannya. Bahkan film ini juga menjadi pesan bagi Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia agar tidak terjadi diskriminasi di daerah daerah tertentu.

Sokola Rimba, kondisi Pendidikan Indonesia di Hutan Rimba

Film Indonesia ini juga diangkat dari salah satu cerita nyata ketimpangan pendidikan Indonesia. Berlatar belakang masa pasca reformasi, film ini menceritakan Butet Manurung yang telah bekerja di Lembaga Konservasi Jambi selama 3 tahun dan kemudian menemukan hal yang diinginkannya selama ini yaitu memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak dari Suku Anak Dalam. Di dalam perjalanannya ini Butet bertemu dengan Nyungsang Bungo, salah satu anak suku tersebut yang bermimpi untuk bisa membaca dan menulis demi melindungi suku dan leluhurnya.

Alangkah Lucunya Negeri Ini, Mirisnya Kondisi Pendidikan Indonesia di Kota Besar

Film inspirasi yang dirilis langsung oleh Deddi Mizwar ini memberikan pesan bagi orang-orang yang menonton jika pendidikan bisa didapatkan tak hanya dari bangku sekolah saja. Kisah film ini menceritakan mengenai Muluk, sarjana lulusan S1 Manajemen yang mengalami kesulitan mencari pekerjaan bahkan di negaranya sendiri. Kondisi ini lah yang mempertemukannya dengan pencopet cilik yang membuatnya malah mengelola bisnis pencopetan di daerah tersebut.

Film ini menyuguhkan tentang problematika pendidikan Indonesia, bahwa masih banyak rakyat kita yang akhirnya justru menjadi pengangguran terdidik setelah lulus dari bangku kuliah karena sulit mencari pekerjaan, di sisi lain masih banyak anak-anak di usia sekolah yang tidak mendapatkan pendidikan dan menggelandang.

Tanah Surga Katanya, Pendidikan Indonesia di Tanah Perbatasan

Film ini benar benar menggambarkan apa yang terjadi pada anak anak yang berada di kawasan yang berbatasan dengan Malaysia. Masyarakat yang tinggal di daerah ini mengalami kemiskinan dan kurangnya perhatian dari pemerintah negaranya sendiri namun tetangga Negara sebelahnya hidup dalam kondisi yang baik. Sehari harinya penduduk daerah tersebut menjual hasil kerja kerasnya dalam bentuk mata uang ringgit, bahkan mata uang Ringgit lebih populer dibandingkan Rupiah yang menjadi mata uang Negara sendiri.

Bahkan yang lebih mirisnya anda bisa melihat ketimpangan pendidikan Indonesia disini. Banyak murid-murid sekolah yang tak mengetahui Negara yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Nasionalisme hingga hal hal yang berkaitan dengan Indonesia benar benar tidak diketahui oleh anak-anak SD disini. Film ini seperti memberikan pesan pada pemerintah Indonesia untuk tetap memperhatikan warga negaranya meskipun yang berada di daerah perbatasan sekalipun.

Nah itu tadi beberapa deretan film film terbaik yang menggambarkan mengenai ketimpangan pendidikan Indonesia. Semoga dengan adanya film-film ini, anda akan semakin terpacu untuk terus membantu kemajuan pendidikan Indonesia sehingga dapat merata ke seluruh pelosok Nusantara.