Kecepatan Berjalan Berhubungan Dengan Resiko Demensia

Kecepatan Berjalan Berhubungan Dengan Resiko Demensia

Taukah Anda bahwa ternyata cara berjalan seseorang bisa menunjukkan sangat banyak hal. Biasanya orang yg cenderung berjalan cepat dianggap sebagai orang yg ambisius dan penuh energi. Sementara itu orang yg biasa berjalan lambat dinilai sebagai seseorang yg santai dalam menikmati hidup, bahkan malas.

Terlepas dari kebenaran kalimat di atas, para peneliti baru- baru ini menemukan fakta bahwa cara berjalan seseorang memang bisa menunjukkan seberapa besar resikonya mengalami kepikunan di hari tua nanti. Riset yg dilakukan pada tahun 2002 lalu menunjukkan bahwa kecepatan orang berhalan dapat memprediksi seberapa besar resikonya terkena demensia di masa mendatang yang ditandai dengan kepikunan.

Sementara itu riset yg dilakukan di tempat berbeda juga meneliti hubungan kecepatan orang berjalan dengan resiko demensia. Riset ini dilakukan dengan melibatkan sebanya 175 orang partisipan yg berusia antar 70 hingga 79 tahun. Mereka diminta untuk berjalan seperti biasa di atas lintasan sepanjang 5,4 meter, sementara para peneliti menggunakan stopwatch untuk mengukur berapa lama waktu yg mereka habiskan.

Riset ini menemukan bahwa peningkatan resiko terhadap kepikunan dan demensia berbeda antar orang yg kecepatan berjalannya juga berbeda. Disimpulkan bahwa mereka yg berjalan lebih cepat memiliki peluang terkena demensia lebih kecil ketimbang mereka yg berjalan lambat. Namun kesimpulan yg didapatkan dari riset ini ternyata tak sesederhana itu.

Pada tahun 2013 lalu sebuah riset sejenis kembali dilakukan. Riset kali ini melibatkan 93 orang partisipan yg berusia antara 54 hingga 70 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yg berjalan cenderung lebih lambat memiliki peningkatan resiko penurunan kognitif otak hingga sembilan kali lipat dibandingkan dengan mereka yg berjalan lebih cepat.

Orang Yang Berjalan Lambat Lebih Beresiko Mengalami Demensia

Kecepatan jalan partisipan dalam riset ini diukur dengan menggunakan sebuah sensor infra red yg diletakkan di rumah mereka masing- masing selama tiga tahun. Para partisipan juga secara rutin diberikan informasi- informasi baru untuk mereka ingat dan kemudian dites daya ingatnya oleh para peneliti secara berkala.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ternyata berjalan lambat memiliki kaitan erat dengan penumpukan amyloid di otak, yg merupakan tanda khas demensia dan Alzheimer. Para peneliti pun menduga bahwa tumpukan amyloid ini meracuni area otak yg memiliki tanggung jawab pada fungsi motorik dan gerak tubuh, sehingga menyebabkan seseorang berjalan lebih lambat.

Penumpukan amyloid sendiri diduga terjadi karena beberapa faktor. Diantaranya seperti kebiasaan merokok dan kurangnya aktivitas fisik seseorang. Faktor lain yg diduga kuat juga berperan terhadap penumpukan amyloid adalah riwayat penyakit kardiovaskulas dan metabolik. Pada lansia, pola berjalan yg lambat juga menunjukkan adanya penurunan fungsi fisiologis tubuh.

Namun sayangnya hingga saat ini riset yg dilakukan hanya menilai kaitan antara cara berjalan dengna resiko demensia pada orang dewasa yg mendekati usia lanjut atau sudah masuk golongan lansia. Masih belum ada penelitian yg dilakukan terhadap partisipan sejak usia muda untuk mengukur resiko demensia saat mereka beranjak tua nanti.