Stress Dan Kekhawatiran Menyebabkan Kebotakan

Stress Dan Kekhawatiran Menyebabkan Kebotakan

Hingga saat ini, masih banyak yg percaya bahwa kekhawatiran bisa mendatangkan uban. Saat seseorang beruban terlalu cepat, ia kerap divonis terlalu banyak pikiran. Namun ternyata faktanya jauh lebih besar dari pada itu.

Rasa khawatir dan stress ternyata tak hanya membuat rambut Anda jadi beruban, akan tetapi juga membuatnya rontok. Kerontokan rambut tersebut merupakan suatu hal yg bisa menggantu penampilan seseorang. Apalagi bila kerontokan ini membuat Anda sampai mengalami kebotakan.

Saat seseorang mengalami stress, terutama yg disababkan oleh psikososial, maka dipercaya memiliki peranan penting pada terjadinya kebotakan. Menurut studi, jumlah pasien dengan kebotakan yg dipicu oleh stress tercatat sejumlah 6,7 hingga 9,6 persen.

Stress psikososial sendiri terjadi saat Anda merasakan adanya ancaman dari lingkungan sosial. Misalnya saat Anda merasa sangat tertekan dengan kesuksesan rekan- rekan kerja Anda di kantor sehingga Anda jadi merasa minder dan terpuruk. Bisa juga terjadi saat Anda merasa ditinggalkan oleh sahabat – sahabat yg sering pergi bersama tanpa mengajak Anda.

stress jenis ini biasanya sangat berdampak pada kesehatan. Biasanya stress psikososial membuat penderitanya merasa terasing, kesepian dan merasa tak diberikan dukungan. Salah satu dampaknya pada kesehatan yaitu menyebabkan rambut botak karena rontok.

Lantas bagaimanakah sebenaranya stress bisa menyebabkan kebotakan. Perlu Anda ketahui bahwa ada tiga jenis kebotakan yg bisa disebabkan oleh stress berlebihan. Berikut adalah penjelasannya.

Alopecia Areata (Kebotakan)

Jenis ini adalah suatu proses peradangan atau penyakit autoimun yg timbul dengan rontoknya rambut. Banyak faktor yg mempengaruhi kebotakan diantaranya adalah penyakit autoimun, genetik, emosional dan juga lingkungan.

Alopecia Areata menyerang kulit kepala, namun area tubuh yg dipenuhi rambut juga bisa terkena masalah ini. Rontoknya rambut yg terjadi biasanya berpola melingkar dan bersifat progresif, dapat pula menyebabkan kebotakan pada seluruh area kepala atau yg disebut dengan alopecia totalis.

Walau penyebabnya masih tidak jelas, bebearpa studi mengatakan bahwa adanya hubungan antara stress dengan kebotakan ini.

Telogen Effluvium

Normalnya, seseorang kehilangan sekitar 100 helai rambut setiap harinya. Akan tetapi stress bida menyebabkan kerontokan rambut lebih banyak dari yg seharusnya. Rambut rontok yg tak wajar tersebut juga dikenal dengan istilah telogen effluvium.

Rambut seseorang normalnya tumbuh dalam suatu siklus. Pada fase aktif, rambut tumbuh dalam beberapa tahun. Setelah fase aktif, rambut Anda masuk ke dalam fase istirahat. Fase istirahat ini berlangsung  kurang lebih tiga bulan setelah rambut Anda mengalami kerontokan. Nah, rata- rata kerontokan normal sekitar 100 helai rambut per hari. Rambut Anda pun akan digantikan dalam enam bulan oleh rambut yg baru.

Saat Anda mengalami stress atau merasakan gejolak emosi negatif, rambut pun akan jadi makin mudah rontok. Saat stress sebagian besar rambut Anda akan masuk ke dalam fase istirahat sebelum saatnya. Tiga bulan kemudian pun rambut tersebut akan rontok.

Trikotilomania

Penyebab ketiga adalah trikotilomania, yaitu kebiasaan menarik rambut tanpa disarai lantaran stress atau cemas. Hal tersebut bisa merusaka rambut dan menyebabkan rambut botak lantaran terlalu sering ditarik.

 

Lantas Bagaimana Mencegah Rambut Rontok?

Dengnan melakukan perubahan gaya hidup yg sederhana saja, Anda bisa membantu mengurangi kebotakan. Misalnya saja dengan memastikan Anda mendapat tidur yg cukup, banyak mengkonsumsi air putih dan mengkonsumsi makanan yg kaya akan protein.

Nutrisi adalah suatu hal  penting untuk pertumbuhan rambut. Hubungan antara makanan dan rambut sangat erat. Perlu Anda ketahui bahwa rambut terbuat dari protein yg disebut keratin. Jadi sebaiknya Anda meningkatkan asupan protein. Kurangnya protein memaksa tubuh Anda untuk menyimpan protein yg ada untuk tujuan lain, seperti membentuk sel.