Dukung LGBT, Pimpinan Muhammadiyah Serukan Boikot terhadap Starbucks

Dukungan terhadap penyetaraan hak terhadap kaum gay, lesbian, bisexual dan transgender memang sudah sejak lama diserukan banyak pihak. Di antaranya dengan pelegalan pernikahan sesama jenis yang juga sudah merambah salah satu negara di Asia, Taiwan. Kebijakan anti diskriminasi ini pun tak hanya diserukan oleh pelaku LGBT sendiri namun juga dari pihak lain dengan alasan menjunjung Hak Asasi Manusia. Perusahaan-perusahaan besar juga tak luput dari sikap penyetaraan terhadap kaum LGBT seperti Facebook, Apple dan Coca-Cola. Baru-baru ini, Howard Schultz, CEO Starbucks juga diketahui mendukung pernikahan sesama jenis. Sikap ini ternyata memicu kontra dari salah satu ormas di Indonesia yakni Muhammadiyah.

Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas menyerukan pemboikotan atau pertimbangan pencabutan izin operasi terhadap Starbucks sebagai bentuk penolakan atas sikap Schultz yang mendukung pernikahan sesama jenis.

Menurut Anwar, idelogi bisnis dan pandangan hidup yang dikembangkan Starbucks ini tidak sejalan dengan apa yang diajarkan Pancasila. Selain itu, sikap ini dikhawatirkan akan  menjadi acuan pengusaha/pimpinan Starbucks yang ada di Indonesia dan hal itu sama sekali bertentangan dengan nilai agama dan budaya.

Seruan pemboikotan ini ternyata mengundang tanggapan negatif dari warganet. Pasalnya, pemboikotan yang didasarkan pada LGBT ini dianggap tidak masuk akal karena perusahaan besar yang sudah sejak lama beroperasi di Indonesia dan juga mendukung LGBT tidak mendapat perlakuan serupa.

Sejarah Starbucks

Starbucks

Starbucks Corporation merupakan perusahaan jaringan kedai kopi global Amerika Serikat yang berkantor pusat di Seattle, Washington. Didirikan pada tahun 1971 sebagai pengecer dan pemanggang kopi setempat, tak sampai 20 tahun Starbucks sudah meluas. Di tahun 1990-an pada satu hari kerja, Starbucks sudah mampu membuka kedai baru yang diteruskan hingga tahun 2000-an.

Kedai Starbucks pertama di luar Amerika Utara dibuka di Asia tepatnya di Jepang pada tahun 1966, dan di tahun 1998 Starbucks juga sudah merambah Britania Raya lewat akuisi Seattle Coffee Company yang mengubah semua merknya menjadi Starbucks.

Tahun 1999 Starbucks mulai melakukan eksperimen dengan makanan di Teluk San Fransisco lewat jaringan restoran Circadia. Restoran ini pun tutup dan berubah nama menjadi Starbucks. Tiga Tahun selanjutnya, Starbucks berhasil membuka kedai pertamanya di Kota Meksiko.

Setelah mendaftarkan merk dagangnya selama kurang lebih sepuluh tahun, Starbucks akhirnya juga berhasil membuka kedai pertamanya di Rusia. Hingga November 2012, tercatat ada 20.366 kedai milik Starbucks yang beroperasi di 61 negara, beberapanya tersebar di seluruh Indonesia.

Kepemimpinan Starbucks

Starbucks didirikan oleh 2 guru bahasa Inggris Jerry Baldwin dan Zev Siegl serta satu penulis Gordon Bowker. Pendirian ini terinspirasi dari kenalan mereka Alfred Peet, seorang pengusaha pemanggang kopi yang menjual biji kopi berkualitas tinggi serta peralatannya.

Selama masa operasinya Starbucks sudah 3 kali berganti pimpinan atau CEO. Tahun 2001-2005, Starbucks dipimpin oleh Orin C. Smith. Tahun 2008, Howard Schultz memimpin Statbucks menggantikan Jim Donald yang diminta mengundurkan diri setelah penurunan penjualan pada tahun 2007.

Produk dan Kekayaan Starbucks

Meskipun bergerak dalam bidang gerai penjualan kopi, Starbucks juga menawarkan produk lainnya yakni Kopi biji utuh, teh kotak, minuman pesanan, minuman botol, makanan panggang, barang dagangan, minuman Frappuccino dan smoothies.

Sampai dengan tahun 2012, Starbucks setidaknya sudah mengantongi pendapatan sebesar US$ 13,29 miliar, laba usaha US$ 1,99 miliar, laba bersih US$ 1,38 miliar, total aset dan ekuitas masing-masing US$ 8,21 dan 5,10 miliar, serta jumlah karyawan mencapai angka 160.000 orang.