Bersihkan Rumah Hingga Ke Langit- Langit Untuk Menghindari Sesak Napas

Bersihkan Rumah Hingga Ke Langit- Langit Untuk Menghindari Sesak Napas

Bersih pangkal sehat. Mungkin kalimat ini sudah sangat sering Anda dengar pada saat masih duduk di bangku sekolah. Atau mungkin hingga saat ini. Memang, tinggal di lingkungan sehat dan bersih bisa membantu tubuh tetap sehat. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga lingkungan tempat tinggal tetap bersih.

Apa saja yg biasanya Anda lakukan saat membersihkan rumah. Kebanyakan akan menjawab dengan menyapu, mengepel, dan juga membersihkan perabotan dari debu. Namun banyak yg melupakan bahwa setiap sudut rumah yg tak terjangkau juga butuh dibersihkan.

Biasanya kebersihan dinding dan atap rumah memang sering kali luput dari perhatian kita saat kegiatan bersih- bersih harian. Padahal noda atau jamur yg ada di dinding, atap dan tempat- tempat yg terabaikan lainnya, bila tak dibersihkan secara maksimal akan meningkatkan resiko sesak napas hingga 90 %.

Selain membuat para penghuni rumah jadi sulit bernapas, keadaan rumah yg lembab juga bisa meningkatkan kemungkinan terkena bronkitis, masalah sinus dan juga asma. Menurut penelitian yg dilakukan beberapa waktu lalu, sebanyak 11 % rumah modern memiliki tanda- tanda kelembaban. Sebelumnya sudah ada banyak peneltian yg membahas hubungan antara gejala asma dengan kelembaban bangunan. Dan sekarang para peneliti pun meneliti hubungan antara peradangan kronis dengan kelembaban hunian seseorang.

Peradangan Kronis Orang Yang Tinggal Di Rumah Lembab, Sama Dengan Perokok

Penemuan baru ini diklaim sangat penting lantaran peradangan kronis adalah kondisi yg cukup umum terjadi di masyarakat dan menimbulkan efek samping yg sangat negatif terhadap kualitas hidup seseorang. Para ahli mengaku mereka merasa terkejut saat mengetahui hubungan antara peradangan kronis dan kelembaban bangungan begitu kuat.

Pada peneliti ini menganalisis data jawaban kuisioner yg diisi oleh lebih dari 26.000 orang dewasa di empat kota di Swedia. Para partisipan ditangan mengenai gejala pernapasan, kebiasaan merokok dan juga pendidikan mereka. Tim peneliti mengidentifikasi kelembaban rumah dengan pertanyaan mengenai kerusakan air yg terlihat dan kelembaban lantai atau jamur yg terlihat di rumah selama 12 bulan terakhir. Hasilnya, sebanyak 2.92 orang melaporkan adanya tanda- tanda kelembaban.

Dari penelitian ini juga didapatkan fakta bahwa orang yang tidak merokok namun tinggal di lingkungan yg lembab memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami sesak napas di malam hari dibandingkan dengan mereka yg merokok akan tetapi tinggal dilingkungan yg bersih dan sehat. Dengan kata lain, tingkat peningkatan resiko sesak napas dari kelembaban ruang hampir sama dengan efek merokok.

Tinggal di lingkungan yg lembab juga memiliki kemungkinan 67 % mengidap bronkitis kronis yg mencakup batuk pada malam hari, asma hingga alergi. Selain itu, mereka juga memiliki kemungkinan 77 % mengalami rinosinusitis kronis sepert gejala pilek, hidung tersumbt, dan juga bersin.

Penelitian ini juga menemukan fakta bahwa kelembaba ruanganan bisa mepengaruhi 1 dari 10 orang dewasa di beberapa titik kehidupan. Rumah yg lembab biasaanya terjadi pada rumah yg dimiliki oleh perempuan, pengangguran atau pelajar dan juga mereka yg merokok sepanjang hari terutama di daerah lembab.

Spora aspergillus yg biasanya tumbuh di lingkungan rumah sama seperti jenis jamur lainnya yg tumbuh subur di lingkungan hangat dan lembab. Menghirup udara dari lingkungan yg ditumbuhi oleh jamur ini bisa menyebabkan aspergillosis, yaitu infeksi yg membuat orang susah bernapas. Dalam beberapa kasus,  bahkan bisa berakibat fatal walau kemungkinannya sangat kecil.

Para peneliti pun mengaku sangat khawatir pada orang yg memiliki status sosioekonomi rendah. Soalnya mereka lebih mungkin mendapatkan efek samping yg lebih kuat lantaran memiliki keterbatasan untuk pindah ke rumah dengan keadaan lebih baik atau melakukan renovasi penggantian atap dan pintu yg ditumbuhi oleh jamur.