Salman Abedi Hubungi Adik Sebelum Ledakkan Diri

Salman Abedi dipastikan sebagai pelaku teror bom bunuh diri pada konser Ariana Grande yang diadakan di Manchester Arena, Manchester, Inggris beberapa hari yang lalu. Belakangan diberitakan bahwa pria bersangkutan tak melakukan aksi teror ini sendirian. Serangan bom bunuh diri ini dipastikan menewaskan 22 orang & melukai setidaknya 60 orang lainnya.

Salman Abedi sendiri diketahui sebagai pemuda berusia 22 tahun, dan merupakan warga kelahiran Inggris, keturunan Libya. Dijelaskan oleh Menteri Dalam Negeri Inggris, Amber Rudd, kemungkinan besar pemuda ini tak beraksi sendirian. Rudd juga mengatakan bahwa Abedi diketahui telah melakukan pengamatan dari sisi keamanan sebelum melakukan pengeboman.

Serangan bom bunuh diri di Manchester ini disebut sebagai serangan paling mematikan di Inggris sejak Juli 2005 silam. Saat itu, empat pengebom membunuh 52 orang dalam serangan terkoordiniasi pada jaringan transportasi London.

Belakangan dilaporkan bahwa Salman Abedi  berbicara dengan saudaranya yang berada di Libya 15 menit sebelum ia meledakkan diri Manchester Arena. Adik kandung dari Salman Abedi, Hasyim Ramadan Abu Qassem al Abedi & ayah mereka, Ramadan Abedi, dipastikan telah ditangkap di Tripoli, Libya, tak lama setelah serangan bom bunuh diri pada hari Senin 23 Mei 2017 lalu tersebut.

Penyidik terus bekerja sepanjang waktu demi melacak keberadaan rekan-rekan Salman Abedi. Aparat kepolisian Inggris meyakini Abedi adalah bagian dari jaringan lebih luas yg bisa jadi tengah merencanakan serangan susulan di Inggris.

Salman Abedi Hubungi Adik Sebelum Ledakkan Diri

Ahmed Ben Salem, juru bicara Pasukan Detektif Khusus di Tripoli menjelaskan bahwa adik Salman Abedi tersebut telah ditahan kepolisian Libya setelah serangan itu lantaran diperkirakan mengetahui aksi bom bunuh diri kakaknya itu. Namun menurutnya Hasyim tidak mengatakan pada penyidik Libya, kapan, dimana & bagaimana rencana bom bunuh diri kakaknya itu dilakukan.

Hashim Abedi sendiri diketahui sudah mengakui saat diinterogasi oleh pihak berwajib di Tripoli bahwa ia & Salman Abedi, adalah anggota ISIS dan ia tau mengenai rencana bom bunuh diri di Mancester Arena itu.

Salman Abedi Diduga Marah Atas Ketidakadilan Pada Orang Arab Inggris

Salman Abedi diketahui masuk ke Libya pada tanggal 19 April 2017 lalu dan kembali ke Inggris pada dtanggal 17 Mei, kurang lebih seminggu sebelum ia meledakkan diri di penghujung konser Ariana Grande di Manchester Arena.

Ahmed Ben Salem menjelaskan bahwa Salman Abedi mengaku dirinya akan ke Arab Saudi untuk menjalani ibadah umrah. Namun hal tersebut hanya kebohongan belaka dan hanya adiknya lah yang mengetahui bahwa sang kakak sebenarnya kembali ke Inggris untuk melakukan teror bom.

Menyusul aksi teror ini, sebanyak 3.800 orang tentara akan ditempatkan di jalan-jalan Inggris. Dengan begitu, para petugas polisi mendapatkan keluasaan untuk melakukan patroli dan investigasi.

Identitas pada korban pun mulai terungkap seiring dengan waktu. Diantara mereka, ada seorang anak perempuan berusia 8 tahun, dua orang gadis remaja dan seorang pria berusia 28 tahun. Selain itu beberapa korban luka juga diketahui berada dalam kondisi kritis dan membahayakan jiwa mereka. Setidaknya ada 20 orang korban yg saat ini tengah kritis.

Belakangan mencuat kabar bahwa tindakan bom bunuh diri Salman Abedi ini didirong oleh apa yang dilihatnya sebagai perlakuan tak adil terhadap orang Arab di Inggris. Keterangan tersebut disampaikan oleh salah seorang kerabatnya.

Salman diduga sangat kecewa dnegan pembunuhan yang menimpa seorang perempuan Muslim tahun lalu. Menurutnya kematian perempuan tersebut tak diketahui oleh “orang-orang kafir” Inggris. Dua kakak beradik ini juga dipastikan memiliki keterkaitan dengan ISIS. Pihak Libya membenarkan hal tersebut dan menyatakan bahwa mereka sudah mengamati mereka selama kurang lebih 1,5 bulan.