Fakta Dibalik Propaganda Nikah Muda

Fakta Dibalik Propaganda Nikah Muda

Menikah pada dasarnya bukanlah suatu perkara mudah. Butuh persiapan, kematangan dan berbagai hal lainnya agar pernikahan bisa berjalan dengan baik dan langgeng. Namun belakangan di media sosial Tanah Air muncul ajakan untuk menikah muda. Ada banyak akun yg mengajak para anak- anak muda dan remaja untuk segera menikah. Bahasan ini pun cukup viral dan menarik perhatian banyak orang, baik yg pro atau pun yg kontra.

Mereka yg pro pada nikah muda menyebut bahwa bila seseorang nikah muda maka mereka tak perlu melewati masa pacaran dan menghindari perbuatan yg dilarang oleh norma- norma yg berlaku. Hal ini memang benar, akan tetapi apakah alasan nikah muda ini cukup sebanding dengan resiko yg terjadi karenanya?

Mendorong seseorang untuk menikah di bawah usia 18 tahun sama saja layaknya menyuruh anak- anak menikah. Hal ini tentu menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, pemerintah sedang sangat giat mengampanyekan kekerasan seksual pada anak. Namun dengan pernikahan dini, maka seolah hubungan seksual di usia dini diperbolehkan.

Namun bukan berarti pernikahan muda salah sepenuhnya. Pada dasarnya setiap orang tentu memiliki kematangan yg berbeda. Namun yg jadi masalah bila pernikahan ini direncanakan tidak secara matang dan tidka mempertimbangkan berbagai faktor mengenai pernikahan, termasuk bagaimana kualitas hidup pasangan yg menikah muda setelah mereka menikah.

Ajakan nikah muda ini yg tengah viral saat ini menggambarkan bahwa nikah muda adalah sesuatu yg mudah, manis dan indah. Padahal pernikahan bukan sekedar mengikat janji, tinggal serumah dan lainnya. Namun jauh lebih besar dari itu.

Saat seseorang memutuskan untuk menikah maka tentu ia harus mempertimbangkan berbagai macam masalah seperti kesehatan reproduksi, mengurus rumah tangga hingga mengasuh anak. Hal ini akan berlangsung selama pernikahan masih berlangsung. Namun para orang yg menggagas nikah muda ini tak memperhitungkan masalah tersebut.

Menikah Muda Tak Salah, Namun Ada Banyak Resiko Yang Menanti

Belum lagi resiko melahirkan di usia muda. Saat seorang wanita melahirkan di bawah usia 20 tahun, maka resiko kematian ibu bisa 5 hingga 7 kali lebih besar lantaran ketidaksiapan organ reproduksinya. Sementara itu dalam hal tanggung jawab terhadap anak pun, mereka biasanya belum siap secara pekerjaan dan penghasilan lantaran biasanya baru lulus sekolah. Hal ini bisa berbuntut panjang karena beresiko terjadinya kesulita ekonomi yg juga akan berdampak pada buruknya pengasuhan dan nutrisi anak.

Faktanya kebanyakan kampanye nikah muda memang lebih banyak menawarkan sisi romantis dalam pernikahan dan sisi- sisi indah saja tanpa mempertimbangkan realita pernikahan lainnya. Karena itu resiko perceraian pun meningkat.

Berdasarkan data dari Kementrian Agama RI pada tahun 2014 lalu, 70 persen perceraian diajukan oleh perempuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa memang ada tekanan yg dialami olehn para perempuan dalam rumah tangga. Biasanya saat pernikahan dilakukan di usia muda mereka lebih tidak siap dalam menjadi ibu rumah tangga dan istri sehingga terjadi masalah.

Karena itu sebelum mengkampanyekan nikah muda di kalangan remaja dengan menggambarkan betapa indah dan romantisnya bisa hidup bersama dengan orang tercinta, sebaiknya berikan pula gambaran mengenai apa yg sebenarnya akan mereka hadapi dalam kehidupan pernikahan. Ada banyak faktor untuk menentukan apakah seseorang siap menikah atau tidak. Baik kematangan cara berpikirnya hingga kematangan secara finansial.

Pastikan Kematangan Anda Dan Pasangan Sebelum Nikah Muda

Pastikan Kematangan Anda Dan Pasangan Sebelum Nikah Muda

Pernikahan yg dilakukan oleh pasangan berusia di bawah 20 tahun bisa dianggap sebagai nikah muda. Dan belakangan pernikahan muda seolah sedang jadi tren di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal para pakar takĀ  menganjurkan seseorang untuk menikah di usia yg terlalu muda.

Beberapa riset membuktikan bahwa saat seseorang menikah di bawah usia 20 tahun maka akan rentan terjadi konflik terkait kematangan emosional. Bahkan para pakar menemukan fakta bahwa pasangan yg menikah mud alebih rentan bercerai ketimbang mereka yg menikah di usia lebih matang.

Karena itu sebaiknya sebelum memutuskan untuk menikah, caritaulah kematangan pasangan Anda terlebih dahulu. Seseorang yg ingin menikah seharusnya secara psikologis harus sudah independen atau mandiri. Tingkat kemandirian pertama terkait dengan emosional.

Kemandirian tipe ini diperlukan agar pasangan tak lagi bergantung pada orang tua. Jadi pasangan harusnya sudah bisa memutuskan jalan hidup mereka sendiri tanpa ikut campur orang tua dan mandiri terhadap kehidupan mereka. Sementara itu tipe kemandirian kedua adalah kemandirian secara finansial. Hal ini sangat penting lantaran berkaitan dengan kesejahteraan dalam rumah tangga di masa depan.

Akan tetapi sepertinya nikah muda belakangan seolah tengah menjadi tren. Bahkan ajakan untuk nikah muda sangat tengah viral di media sosial. Ada banyak akun yg khusus dibuat dengan tujuan mengajak para anak muda untuk tidak ragu menikah di usia muda dan menyampaikan berbagai macam manfaat apa saja yg diperoleh bila mereka menikah muda.

Akan tetapi respon yg diberikan oleh masyarakat mengenai nikah muda cukup beragam. Ada yg menyetujui, ada yg tidak dan bahkan ada yg menentang tindakan nikah muda. Bahkan belakangan muncul tagar #stopnikahmuda yg dikampanyekan oleh duta Generasi Berencana atau GenRe 2016 dan juga mahasiswa Fakultas Kesehatan.

Memang nikah muda memiliki pro dan kontra. Ada banyak manfaat dan juga banyak resiko. Salah satu resiko nyata dari nikah muda adalah dari sisi kesehatan dan juga kematangan mental dan juga finansial. Biasanya orang yg menikah di usia muda akan mendapati berbagai macam tantangan terkait dengan pengelolaan keuangan.

Kematangan Finansial Berpengaruh Penting Pada Kelangsungan Rumah Tangga

Agar seseorang bisa dan sanggup mengelola keuangan maka sangat diperlukan kematangan dalam pola pikir. Seseorang yg telah dewasa dengan seseorang yg masih muda sudah pasti akan sangat berbeda dalam cara pengaturan keuangannya.

Hal ini bukan hanya terkait pada pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan pribadi namun juga berhubungan dengan kematangan cara berpikir seseorang. Apalagi biasanya di usia muda seseorang masih akan dipenuhi oleh gejolak juga tingkat konsumsi yg cenderung tinggi.

Namun banyak orang yg percaya bahwa saat sudah menikah rezeki akan datang dengan sendirinya. Hal ini memang benar adanya, akan tetapi logika ini tak bisa dijadikan acuan dan motif menikah muda. Justru sebaiknya pasangan yg sudah menikah seharusnya lebih realistis dalam merencakan pernikahan dan niat membina rumah tangga. Termasuk mengenai masalah pengelolaan keuangan.

Tak sedikit rumah tangga yg bermasalah lantaran pengelolaan keuangan yg salah. Karena itu sebaiknya sebelum memutuskan untuk nikah muda, pastikan dulu bahwa Anda dan pasangan telah memiliki pekerjaan yg menghasilkan. Selain itu juga sangat penting untuk mengetahui kemampuan calon pasangan dalam menghasilkan uang dan bagaimana cara ia memanfaatkannya.