Pro Dan Kontra Metode BLW Pada Bayi

Pro Dan Kontra Metode BLW Pada Bayi

Mungkin bagi sebagian orang istilah Baby Led Weaning atau BLW masih terasa tak familiar. Namun bagi para orang tua, terutama ibu, tentu pernah mendengar istilah ini. Belakangan BLW pun mendadak populer di tanah air menyusul seorang penyanyi kenamaan, Andien Aisyah, memutuskan menerapkan metode BLW pada bayinya. Keputusannya ini pun menuai pro dan kontra di antara para netizen terutama para ibu.

Metode BLW sendiri sebenarnya adalah alternatif pemberian MPASI pada bayi. Tidak seperti metode kebanyakan yg memperkenalkan bayi pada makanan bertekstur lunak hingga padat secara bertahap, metode BLW ini justru membiarkan bayi memilih dan makan makanan padat sendiri dengan tangannya.

Lewat metode ini, pemberian makanan berbentuk bubur saat memperkenalkan MPASI tak dilakukan, melainkan langsung memperkenalkan bayi dengan makanan padat yg bisa digenggam sendiri oleh bayi. Metode BLW sendiri dipelopori oleh Gill Rapley sekitar 10 hingga 15 tahun yg lalu. Ide awal dari BLW  adalah konsep back tu nature, yaitu bayi akan menyapih dengan sendirinya setelah selesai ASI eksklusif.

Para ahli yg pro dengan metode BLW ini mengatakan bahwa metode ini akan membantu bayi lebih mandiri lantaran tidak ada campur tangan orang tua dalah memilih dan menyuapi makanan. Menurut mereka anak yg dibiarkan memilih makanannya sendiri juga dipercaya akan tumbuh menjadi anak yg gampang makan apa saja, termasuk sayur dan buah.

Meski begitu, para dokter juga tidak menganjurkannya lantaran manfaat BLW ini masih belum pernah diteliti dalam skala besar. Hingga saat ini studi- studi tentang BLW juga baru sebatas studi observational dalam kelompok- kelompok kecil.

Karena itu kebanyakan dokter anak memiliki pandangan bahwa dalam pemilihan metode MPASI sebaiknya orang tua tetap berpedoman pada panduan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, yaitu ASI eksklusif 6 bulan dan mulai diperkenalkan pada makanan lembek dan secara bertahap memberikan makanan kasar hingga usia 12 bulan hingga anak siap mengkonsumsi makanan keluarga.

Tak bisa kita pungkiri bahwa metode pemberian ASI memang adalah hak pregoratig para ibu, akan tetapi tetap harus memperhatikan beberapa hal. Perlu diingat bahwa usia bayi hingga 2 tahun adalah periode tumbuh kembang emas, dan yg paling krusial pada periode ini adalah nutrisi yg didapatkan oleh anak.

Hal Terpenting Dari MPASI Adalah Kecukupan Nutrisi

Hal yang paling penting dalam pemberian MPASI adalah kecukupan nutrisinya. Saat ASI ekslusif berakhir, maka kebutuhan gizi anak tak lagi dapat dipenuhi oleh ASI sehingga harus didapatkan dari makanan pendamping. Jumlahnya tentu harus cukup. Di dalamnya pun harus terkandung energi, protein, makronutrien, serta mikronutrien.

Para pakar mengkhawatirkan, bila bayi mendapatkan MPASI dengan metode BLW, dikhawatirkan ia tak akan mendapatkan nutrisi dalam jumlah yang mencukupi. Biasanya menu dalam BLW adalah buah atau sayuran yg dikukus. Padahal bayi juga butuh protein hewani sebagai sumber zat besi. Sementara bayi tak akan mungkin mengkonsumsi daging dalam bentuk padat.

Di samping itu bayi yang berusia kurang dari satu tahun biasanya belum terlalu mahir mengunyah lantaran giginya juga belum lengkap. Mereka belajar makan dengan caran menghisap makanan yg digenggamnya sehingga ada resiko jumlah yg masuk ke dalam tubuh hanya sedikit.

Selain itu perlu diingat bahwa pemberian makanan pendamping ASI pada bayi juga harus disesuaikan dengan kemampuan fisik, oromotik, kesiapan saluran pencernaan dan juga emosi anak.