RB Leipzig

RB Leipzig adalah klub yang bermain di Bundesliga dengan berjuta kontroversi. Dari istilah tim kaleng hingga kisah suksesnya menjadi tim promosi pertama yang akan finis sebagai tim papan atas Bundesliga, Leipzig . Secara otomatis, Leipzig bakal turut serta dalam pagelaran raja-raja Eropa, Liga Champions Eropa.

RasenBallsport Leipzig e.V. adalah nama lengkap dari klub ini. Tim yang berbasis di Leipzig, Saxony ini dibentuk pada tahun 2009 oleh sebuah perusahaan minuman berenergi, Red Bull GmbH. Perushan ini membeli hak atas sebuah klub divisi lima kompetisi Jerman, SSV Markranstadt. Tim yang Red Bull beli pun diubah namanya menjadi RB Leipzig sebagaimana sekarang kita mengenalnya.

Dalam waktu delapan tahun, Leipzig sudah diorientasikan untuk mampu menembus kompetisi tertinggi Jerman, Bundesliga. Rencana Red Bull mendongkrak Leipzig pun berjalan mulus. Setelah resmi dimiliki Red Bull, Leipzig langsung merajai NOFV-Oberliga Sud atau kompetisi kasta kelimanya Jerman. Setelah promosi, ke Regionalliga Nord, Lepzig pun berhasil keluar sebagai jawara dan promosi ke level di atasnya. setahun berselang Leipzig Berjaya di Divisi tiga liga Jerman atau disebut dengan 3. Liga. Setahun berselang setelah promosi di 2. Bundesliga, sebagaimana prediksi, Lepzig mampu merajainya. Akhirnya, pada tanggal 8 mei 2016, Leipzig promosi ke Bundesliga. Hal ini membenarkan klaim awal Red Bull ketika mereka membeli lisensi klub divisi lima bahwa sekurang-kuangnya dalam delapan tahun, mereka akan membawa tim tersebut bermain di Bundesliga.

Pemain RB Leipzig

Skuad RB Leipzig

No Pos Pemain No Pos Pemain
1 GK Fabio Coltorti 17 DF Dayot Upamecano
3 MF Bernardo 19 MF Oliver Burke
4 DF Willi Orban 20 DF Benno Burke
6 MF Rani Khedira 21 GK Marius Muller
7 MF Marcel Sabitzer 23 DF Marcel Halstenberg
8 MF Naby Keita 24 MF Dominik Kaiser
9 FW Yussuf Poulsen 27 FW Davie Selke
10 FW Emil Forsberg 31 MF Diego Demme
11 FW Timo Werner 32 GK Peter Gulacsi
13 MF Stefan Lisanker 33 DF Marvin Compper
16 DF Lukas Klostermann 36 DF Ken Gipson

Sejarah Klub RB Leipzig

RB Leipzig otomatis menjadi klub termuda di Jerman jika dihitung sebagai klub bernama Leipzig, bukan sebagai klub yang bermain di divisi lima. Jadi, tahun 2009, perusahaan minuman berenergi, Red Bull, membeli lisensi sebuah tim sepak bola, SSV Markranstadt. Pada waktu itu, SSV Markranstadt bermain di divisi lima. Lalu setelah dibeli, nama tim diubah menjadi RB Leipzig. Dalam waktu yang singkat, Leipzig promosi ke divisi yang lebih tinggi hingga akhirnya pada tahun 2016 mampu promosi di Bundesliga. Secara garis basar, perjalanan Leipzig sejak pembentukannya hingga hari ini adalah seperti itu. Tapi tak ada salahnya untuk menyimak kisah lebih rinci di balik pendirian RB Leipzig.

Dietrich Mateschitz adalah satu nama yang paling berperan dalam pembentukan RB Leipzig. Dietrich adalah co-owner Red Bull GmbH. Selama tiga setengah tahun dirinya mencari tempat yang cocok untuk berinvestasi di sepak bola Jerman. sebelum memilih Leipzig, kala itu Dietrich dan perusahaan mempertimbangkan kota-kota di Jerman barat seprti Hamburg, Munich, dan Dusseldorf. Namun akhirnya yang dipilih adalah kota Leipzig.

Sebenarnya, tahun 2009 bukanlah percobaan pertama Red Bull ‘membuat’ klub. Percobaan pertamanya terjadi di tahun 2006. Saat itu, Dietrich yang brkawan akrab dengan Franz Beckenbauer disarankan untuk membeli klub yang ada di kota Leipzig. Dietrich setuju dan mencoba membeli klub FC Sachen Leipzig. kebetulan, tim ini tengah berada pada kesulitan yang berkepanjangan. Saat itu Dietrich menwarkan investasi senilai 50 juta euro dengan syarat bahwa FC Sachen Leipzig ini harus berganti nama dan warna kebesaran. Di saat yang bersamaan, Sachen yang bermain di Oberliga, kasta keempat sepak bola Jerman, harus mengurus proses lisensi Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB). Hasilnya, DFB menolak nama baru dari Sachen dan memberi masukan pada klub akan bahaya pengaruh yang besar dari perusahaan jika Red Bull berinvestasi. Selain pernyataan DFB, supporter FC Sachen pun melakukan protes keras selama berbulan-bulan agar klub menolak tawaran investasi Red Bull. Akhirnya, Red Bull membatalkan investasinya. Pada percobaan perdananya, perusahaan berlogo banten ini gagal.

Red Bull kemudian mengarahkan bidikkan ke wilayah Jerman Barat. Fc St. Pauli adalah sasarannya. Red Bull kemudian membuat pembicaraan dengan jajaran manajemen St. Pauli. Red Bull memulai dengan mengajukan diri untuk mensponsori St. Pauli. Tawaran Red Bull tersebut kemudian gagal berkat peran supporter yang turun tangan memprotes, meski dalam jenjang waktu yang singkat. Selanjutnya Red Bull mencoba ke sebuah klub di Hamburg. namun usaha Red Bull ditolak mentah-mentah oleh klub sebab pihak klub sudah mengetahui apa yang sesungguhnya akan dilakukan Red Bull. Pendekatan Red Bull juga terjadi kepada TSV 1860 Munich lewat negosiasi tertutup. Namun klub tak cukup tertarik untuk menerma investasi Red Bull.

Gagal ‘mendapat’ klub hingga tiga kali percobaan tak membuat Red Bull urungkan niat berinvestasi di sepak bola Jerman. Perusahaan ini kembali hendak melakukan negosiasi untuk berinvestasi di Fortuna Dusseldorf, sebuah klub yang memiliki sejarah panjang. Sebelum terlaksana, rencana Red Bull tersebut sudah terbuka ke publik bahwa perusahaan ini ingin menguasai lebih dari 50 persen saham klub. Rumor yang mengatakan keinginan perusahaan mengubah nama tim menjadi Red Bull Dusseldorf pun menyeruak. Suporter Dusseldorf akhirnya melakukan aksi protes keras. Serupa dengan apa yang terjadi di Sachen Leipzig, usaha Red Bull untuk berinvestasi di Dusseldorf pun mendapat penentangan legal dari DFB, asosiasi sepak bola Jerman. Alasannya pun sama, DSB tidak mengizinkan penggantian nama untuk kepentingan periklanan. Dusseldeorf pun menolak tawaran Red Bull. Setelah itu, Red Bull kembali mencari klub di wilayah Jerman timur.

Meski pernah ditolak Sachen Leipzig, Red Bull tetap kembali ke Leipzig. perusahaan ini tetap menilai bahwa Leipzig adalah tempat yang paling tepat dan menguntungkan untuk berinvestasi di bidang sepak bola. Kota Leipzig memiliki sejarah panjang sepak bola. Kota ini adalah rumah jawara German National Football Championship pertama, VfB Leipzig. Namun, di era modern, Kota ini absen dari perhelatan kompetisi tertinggi negri Bavarian. Tak ada tim lokal Leipzig yang bermain di Bundesliga sejak 1994 dan tak ada yang bermain di liga professional sejak 1998. Sudah dapat di pastikan, kota Leipzig haus akan gemerlap Bundesliga. Leipzig adalah kota dengan jumlah penduduk kurang lebih 500.000 orang. Kota ini punya potensi ekonomi yang sangat baik. Alasan yang semakin memperkuat keyakinan Red Bull untuk memilih Leipzig adalah tidakadanya tim Bundesliga yang setidaknya terletak dekat dengan Kota Leipzig.

Red Bull juga semakin tergiur untuk berinvestasi di Leipzig mengingat fasilitas di kota ini sudah sangat memadai. Leipzig memiliki bandara besar, transportasi umum yang terkoneksi antar wilayah, dan yang terpenting, kota ini memiliki stadion sepak bola modern yang besar, Olympiastadion. Red Bull berpikir dan berhitung bahwa berinvestasi untuk klub kota ini yang mampu bermain di Bundesliga adalah sebuah nilai yang mahal.

Dirasa telah menemukan lokasi tepat, kini yang dipertanyakan Red Bull adalah apakah perusahaan ini hendak membuat tim baru dari awal atau ‘membeli’ tim yang sudah ada. Saat itu red Bull melakukan konsultasi pada Saxony Football Association (SFV), asosiasi sepak bola lokal, tentang bagamana cara membuat tim baru. Namun pada akhirya, Red Bull tak memlih jalan itu.

Opsi kedua adalah berinvestasi atau kasarnya ‘membeli’ tim yang sudah ada. Red Bull paham bahwa jalan ini tidak akan mudah. Sebelumnya mereka sudah melakukan ini dan ditolak oleh klub DFB tak memberikan izin perubahan nama atas sebuah klub. Namun mesti dipahami bahwa tim-tim yang mesti tunduk pada sistem lisensi DFB tersebut adalah tim-tim yang bermain di divisi teratas, Bundesliga, hingga divisi empat. Sedang divisi lima tentu tak perlu tunduk pada aturan DFB. Ini tentu menjadi celah dan peluang yang paling mungkin diambil Red Bull.

pada akhirnya, Red Bull menemukan sebuah klub sepak bola di sebuah desa kecil yang bermain di divisi lima atau disebut Oberliga. Tim tersebut adalah SSV Markranstadt yang diketuai oleh Holger Nussbaum. Holger kemudian menerima pinangan proposal Michael Kolmel dari Red Bull dengan pertimbangan keseimbangan finansial klub secara berkepanjangan. Akhirnya negosiasi pun dimulai antara Red Bull dan SSV Markranstadt. hanya 5 minggu setelah kontak pertama, SSV menerima pinangan Red Bull. Klub ini menjual hak bermain di Oberliga kepada Red Bull GmbH. Tidak ada yang tahu pasti berapa yang didapat Markranstadt dari kesepakatan tersebut. Namun klub itu diperkirakan menerima kompensasi sebesar 350.000 Euro.

19 Mei 2009, RasenBallsport Leipzig e.V. resmi berdiri. Andreas Sadio terpilih sebagai ketua dan Joachim Krug bertindak sebagai direktur olah raga. Sebelumnya Sadio adalah agen sepak bola. Setelah resmi dipilih menjadi ketua tim ini, ia resmi berhenti dari agen bola agar kelak tak mendapat keberatan dari Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB).

RB Leipzig sendiri merupakan klub kelima yang dimiliki Red Bull. Perusahaan ini tercatat menjadi pemilik dari FC Red Bull Saizburg di Austria, New York Red Bull di Amerika, Red Bull Brasil di Brazil, dan Red Bull Ghana di Ghana. Berbeda dari yang klub Red Bull lainnya, RB Leipzig tidak dibubuhi nama perusahaan berekenaan dengan statute DFB yang melarang nama klub yang mengandung nama perusahaan. Namun sebetulnya, RB atau RasenBallsport (olah raga bola rumput) pada RB Leipzig ini bukanlah hal yang biasa. Ditenggarai pengunaan RB sendiri sebagai bentuk penggunaan nama perusahaan di dalam nama klub. Red Bull berinisial RB, bukan?

Stadion am Bad di Markranstadt adalah venue pertama RB Leipzig di ajang Oberliga. Stadion yang memuat 5.000 penonton ini adalah markas sederhana milik SSV Markranstadt. Musim perdana Leipzig di Oberliga atau divisi lima sepak bola Jerman diprediksi akan berakhir sukses. Hal itu menjadi kenyataan. Selanjutnya Lepizig melenggang dengan mulus naik kasta di setiap tahunnya hingga mencapai Bundesliga di tahun  2016.

Staf Kepelatihan RB Leipzig

Posisi Nama
Pelatih Kepala Ralph Hasenhutti
Asisten Pelatih Zsolt Low
Robert Deising
Pelatih Kiper Frederik Goβling
Pelatih Atletik Nicklas Dietrich
Kai Kraft
Direktur Olah Raga Ralf Rangnick
Koordinator Olah Raga Frank Aehing
Manajer Tim Thomas Estphal
Dokter Tim Dr. Frank Striegler
Dr. Ralf Zimmermann
Psikolog Tim Sascha Lense
Ahli Pengobatan Badan Alexander Sekora
Sven Wobser
Nikolaus Schmidt
Christopher Weichert
Manajer Seragam Claudia Laux
Analis Vidio Daniel Ackermann
Danny Rohi

Stadion RB Leipzig

Red Bull Arena - RB Leipzig Stadion

RB Leipzig bermarkas di Red Bull Arena. Sejak tahun 1956 hingga 2010, Red Bull Arena yang kita kenal sekarang bernama Zentralstadion. Dibuka pada tahun 1956, stadion ini memiliki kapasitas 44.345 penonton. Tahun 2010, Red Bull mendapat hak atas stadion itu setelah melalui proses negosiasi yang cukup panjang bersama pihak-pihak terkait. Zentralstadion pun secara resmi berubah namanya menjadi Red Bull Arena.

Maret 2015, RB Leipzig mengutarakan niat mereka untuk menginventasikan dana sejumlah lima juta Euro untuk renofasi stadion. Mereka berencana untuk memperluas area VIP, area Pers, membuat area khusus kursi roda, mengganti dua papan skor LED dengan yang lebih besar, dan memperbarui fasilitas pemain. Sektor VIP ditambahkan kursinya dari 700 menjadi 1400 kursi.

Red Bull Arena merupakan stadion dengan model tribun full kursi, tidak ada tribun ‘berdiri’. Dalam setiap laga kandang, supoteer tuan rumah selalu menempati sector B stadion. Suporter kemudian meminta sektor B tersebut dijadikan tribun ‘berdiri’ dalam kesempatan rapat supporter tahun 2014. Namun, hingga tahun 2016, klub belum menanggapi keinginan supporter tersbut.

Warna dan Logo RB Leipzig

RB Leipzig tentu memiliki warna dan logo sendiri. Semua klub yang dimiliki Red Bull memiliki loga identik perusahaan minuman berenergi ini. Namun hal tersebut tak bisa di jalankan di Jerman. Saat hendak mengarungi kompetisi perdanya di tahun 2009, pengajuan logo tim RB Leipzig ditolah oleh Asosiasi Sepak Bola Saxony (SFV) ayng membuat tim ini menjalani musim 2009-2010 tanpa logo tim. Penolakan tersebut didasrkan pada penilaian bahwa logo tim Leipzig yang diajukan adalah logo tiruan dari perushaan Red Bull.

Setahun berikutnya, Leipzig datang dengan logo baru yang menghilangkan gambar dua banteng dan ditambah beberapa coretan. Saat Leipzig bermain di 2. Bundesliga, logo Leipzig ditolak oleh DFL. Akhirnya, Leipzig kembali membuat logo tim yang secara signifikan sangat berbeda dengan logo-logi klub lain milik Red Bull. Logo tersebut adalah logo yang sekarang kita lihat.

Prestasi RB Leipzig

Kompetisi Tahun
Regionalliga Nordost 2012/2013
NOFV-Oberliga Sud 2009/2010, 2014/2015
Sachsenliga 2013/2014
Bezirksliga Leipzig 2009/2010, 2010/2011
Saxony Cup 2010/2011, 2012/2013

 

Suporter RB Leipzig

RB Leipzig mempunyai basis supporter yang cukup besar. Diketahui terdapat 27 kelompok supporter resmi RB Leipzig hingga tahun 2016. Dua klub supporter pertama yangbergabung adalah L.E Bulls dan Bulls Club di tahun 2009. Bulls Club mengklaim diri sebagai yang terbesar. namun, L.E Bulls tetaplah yang peling tua. Sebuah Koran Jerman, Mitteldeutsche Zeitung, menurunkan laporan bawa RB Leipzig memilik 5.000 suporter terorganisi per bulan Maret 2016.

Dari sejumlah kelompok supporter Leipzig, semuanya terorganisasi dalam kesatuan supporter Fanverband RB Leipzig Fans. Kesatuan ini terbentuk sejak tahun 2013. Ini adalah paying organisasi klub resmi supporter. Tahun 2016, tercatat seluruhnya ada 25 kelompok supporter yang tergabung dalam Fanverband RB Leipzig Fans. Dari 25 kelompok tersebut, dua orang perwakilan dari masing-masing kelompok melakukan pertemuan setiap empat sampai enam minggu sekali. Suporter union ini juga ruin menggelar pertemuan setahun sekali. Siapapun bisa ikut serta dalam pertemuan tersebut, biarpun bukan anggota dari supporter union.

Torehan Kompetisi RB Leipzig

Musim Liga Posisi
2009/2010 NOFV-Oberliga Sud (V) 1
2010/2011 Regionalliga Nord (IV) 4
2011/2012 Regionalliga Nord 3
2012/2013 Regionalliga Nordost 1
2013/2014 3. Liga (III) 2
2014/2015 2. Bundesliga (II) 5
2015/2016 2. Bundesliha 2
2016/2017 Bundesliga (I)

Author: Fen

Indeprndent Blogger