Terlalu Sering Memuji Anak Pintar Bisa Jadi Boomerang

Terlalu Sering Memuji Anak Pintar Bisa Jadi Boomerang

Memberikan pujian pada anak sama sekali tidak salah. Bahkan seharusnya orang tua memang memberikan pujian pada buah hati mereka sesekali sebagai bentuk apresiasi bila anak- anak melakukan sesuatu yg baik.

Setiap orang tua pasti merasa bersyukur atas anak- anak mereka. Entah kepintarannya, kepeduliannya, kecantikannya, ketampanannnya hingga keramahannya. Seperti yg sudah disebutkan di atas, tak ada salahnya memuji anak. Akan tetapi sebaiknya jangan berlebihan memuji kepintaran buah hati Anda. Walau hanya sebuah pujian, Anda tetap harus bersikap bijaksana dan mempertimbangkan semua efek dari pujian tersebut baik negatif atau pun positif.

Para pakar psikologi menyebutkan bahwa saat orang tua terlalu sering memuji anak- anak mereka atas kecerdasan dan kepintaran yg mereka miliki, justru akan membuat sang anak jadi gampang menyerah pada kesulitan. Selain itu mereka juga menyebut bahwa anak- anak yg terlalu sering mendapatkan pujian atas kecerdasan dan kepintaran mereka juga cenderung ingin mencontek.

Sebenaranya wajar saja bila orang tua ingin menunjukkan pada sang anak seberapa pintar dan hebat mereka. Akan tetapi hasil penelitian yg dilakukan oleh para pakar psikologi menunjukkan bahwa ada efek samping dari pemberian motivasi dan pujian tersebut secara berlebihan.

Saat anak terlalu sering dipuji atas kepintarannya maka ia memiliki kecenderungan akan mencontek. Alasannya sederhana, ia ingin tampil baik dan tak peduli bagaimana caranya. Para ahli ini juga mengatakan bahwa memuji kecerdasan anak sebenarnya memiliki lebih banyak efek negatif ketimbang efek positif. Salah satunya adalah anak memiliki rasa takut akan kehilangan status pintar dan cerdasnya tersebut.

Biasakan Memuji Kepintaran Anak Secara Spesifik

Selain itu saat orang tua atau guru menyebut seorang anak pintar, dan hal ini dilakukan terlalu sering, maka tingkat kecerdasan anak akan cenderung menjadi stagnan dan pada akhirnya mereka pun gampang kecewa saat menghadapi kegagalan. Itu bisa berarti mereka tak mau menghadapi tantangan atau takut bila tak lagi dianggap pintar karena gagal atas sesuatu.

Semua orang tua tentu ingin mendorong anak untuk terus maju. Akan tetapi orang tua perlu bijak dalam memuji anak- anak mereka. Dari pada Anda memberikan pujian dengan kata umum seperti “pintar, jenius, cerdas” sebaiknya berikan pujian pada perilaku anak secara lebih spesifik.

Memberikan pujian dengan cara ini tak akan membuat anak besar kepala. Selain itu cara ini juga membantu Anda menekankan papda anak bahwa proses lebih penting ketimbang hasil.

Dengan begitu, anak tak akan takut pada kegagalan. Selain itu ia juga tak akan memiliki keinginan untuk berbuat curang demi mempertahankan statusnya sebagai anak pintar dan cerdas. Anak juga akan lebih menghargai proses atas keberhasilan mereka dan tak melulu fokus pada kesuksesan itu sendiri.

Pertimbangkan Dan Lakukan Hal Ini Sebelum Mengadopsi Anak

Pertimbangkan Dan Lakukan Hal Ini Sebelum Mengadopsi Anak

Mengadopsi anak adalah salah satu solusi yg kerap dilakukan oleh pasangan yg tak bisa memiliki keturunan, atau pasangan yg ingin menambah anak, akan tetapi tidak ingin hamil lagi karena satu dan lain hal.

Selain itu ada juga pasangan yg dengan sengaja ingin mengadopsi anak lantaran merasa bersimpati dengan keadaan sang anak dan lainnya. Ada cukup banyak pasangan dengan keadaan ekonomi mapan yg melakukan hal ini. Mereka bertujuan mengadopsi anak dengan tujuan untuk membantu sesama.

Ada banyak pilihan saat pasangan ingin mengadopsi anak. Mereka bisa mengadopsi kerabat dekat yg kurang mampu, atau mereka bisa juga mengadopsi anak orang lain yg bahkan tak mereka kenal sama sekali.

Memang ada banyak hal dan faktor yg mempengaruhi seseorang atau pasangan dalam mengadopsi anak. Akan tetapi biasanya faktor psikologis yg mempengaruhi mereka untuk mengadopsi anak.

Namun menurut pakar psikologi, biasanya sebelum mengadopsi seorang anak, kebanyakan pasangan yang telah divonis tak bisa memiliki keturunan telah melewati proses berduka atau grieving yang terdiri dari denial, anger, bergaining, depression dan juga acceptance, lantarna mereka tak bisa memiliki anak sendiri.

Terlepas dari latar belakang serta alasan kenapa seseorang atau pasnagan akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak, tentu perlu berbagai macam pertimbangan sebelum akhrinya keinginan tersebut bisa mereka wujudkan.

Selain persiapan dari segi kematangan finansial, ada beberapa hal yg juga wajib untuk disiapkan oleh pasangan. Terutama persiapan mental. Berikut adalah beberapa persiapan yg seharusnya dipertimbangkan saat ingin mengadopsi anak.

Ubahlah Gaya Hidup Dan Jadikan Anak Prioritas

Bila biasanya Anda adalah pekerja yg sibuk dengan aktivitas sehari- hari maka saat mengadopsi anak Anda harus rela mengesampingkan beberapa kegiatan untuk mengurus sang buah hati kelak.

Memang tak mudah untuk mengesampingkan ego, akan tetapi kehidupan dan kesejahteraana anak akan sangat bergantung pada orang tuanya. Namun walau begitu, Anda tetap harus memenuhi kebutuhan diri sendiri dan pasangan.

Belajarlah Cara Mengurus Anak

Bila Anda ingin mengadopsi bayi atau balita, tak ada salahnya bila Anda mengikuti kelas ibu dan balita. Dengan begitu pengetahuan Anda mengenai keterampilan dalam merawat, mendidik, dan mengenai tumbuh kembang anak juga akan meningkat.

Dengan mempersiapkan diri maka resiko kepanikan juga akan berkurang, dan Anda bisa memastikan kepanikan Anda tak membahayakan sang anak kelak.

Atasi Tekanan Sosial

Di era digital seperti sekarang, informasi baru sangat cepat berputar. Karena itu tak sedikit para ibu baru yg merasa kewalah dalam memilih mana yg terbaik dan tepat untuk buah hati mereka. Baik secara sadar atau tidak hal ini menimbulkan rasa kompetisi di antara para ibu baru. Karena itu sebaiknya lakukan riset terlebih dahulu mengenai baik atau buruknya suatu metode yg hendak Anda ikuti, dan jangan pernah terpengaruh atau hanya ikut- ikutan tren terkini. Bila perlu berkonsulitasilah pada dokter atau tenaga profesional sebelum memutuskan sesuatu yg penting bagi anak.

Ambil Keputusan Untuk Membesarkan Anak

Anda perlu mendiskusikan banyak hal dengan pasagan mengenai berbagai hal tentang membesarkan anak. Kalau perlu lakukan trial dan error untuk berbagai hal ini. Misalnya saja, Susu apa yg akan Anda berikan pada anak, bagaimana sebaiknya kamar anak diatur dan mengenai hal- hal lainnya.

Mengatasi Balita Yang Berkata Kasar

Mengatasi Balita Yang Berkata Kasar

Tak ada orang tua yg merasa senang saat mendengar anaknya berkata kasar, apa pun alasannya atau apa pun yg dikatakannya serta pada siapa ia mengatakannya. Saat anak berkata kasar tentu orang tua akan berusaha mencari tau kenapa sang anak bisa berkata kasar dan siapa yg mengarjarkannya berkata kasar.

Mungkin saat anak masih berada di rumah dan berada dalam pengawasan orang tua sepenuhnya, akan mudah mengontrol anak. Akan tetapi segala sesuatunya tentu akan berubah saat pergaulan anak menjadi lebih luas seperti saat anak sudah mulai masuk sekolah atau saat anak mulai bergaul dengan anak- anak lain.

Saat anak berada di lingkungan yg lebih luas, sebenarnya ada banyak dampak positif untuk tumbuh kembang sang anak. Akan tetapi juga ada beberapa efek negatif yg terkadang tak bisa dikendalikan dan dipantau terus menerus oleh orang tua.

Salah satu efek negatif tersebut adalah bertambahnya perbendaharaan kata buruk anak- anak Anda. Kebanyakan orang tua merasa bingung saat mengalami hal ini, karena apa yg sudah didengar anak tak bisa dihapus dari memorinya.

Dari kacamata psikologi, hal yg membuat anak berkata kasar adalah faktor peniruan yg memang kerap dilakukan oleh anak- anak. Perilaku suka meniru memang sangat lekat pada anak- anak pada usia pra sekolah. Apa yg mereka lihat dan mereka dengar, akan dengan mudah mereka tiru. Saat ada sesuatu yg baru di lingkungannya, termasuk kata- kata tak panas, maka ia akan dengan mudah menirunya.

Selain itu, anak yg berusia di bawah usia lima tahun memang bisa mempelajari hal baru dengan sangat ceapt. Anak- anak biasanya juga sangat bersemangat untuk mengeksplorasi berbagai hal yg terjadi di lingkungan sekitar mereka. Termasuk pada berbagai kata kasar yg ia dengar dari orang sekitarnya, dan kemudian ia akan menirunya.

Lantas apa yg sebaiknya Anda lakukan?

Ambil Sikap

Biasanya, saat anak- anak berkata kasar, ia sama sekali tak bermaksud demikian. Biasanya ia bahkan tak mengerti benar apa arti kata- kata yg ia ucapkan tersebut. Anak pun biasanya tak terlalu paham apakah kata- kata tersebut pantas atau tak pantas untuk ia ucapkan.

Saat anak mengatakan hal tersebut, terkadang ia sama sekali tak bermaksud memaki, akan tetapi semata- mata hanya karena sekedar meniru perkatan orang lain. Apalagi bila reaksi lingkungan mendukung perbuatannya itu. Karena itu saat anak Anda mengatakan kata- kata yg tak pantas maka sebaiknya jangan lantas tertawa dan menunjukkan pada anak bahwa yg ia ucapkan tersebut lucu. Bila Anda melakukan hal tersebut, biasanya anak akan makin tertarik untuk melakukannya.

Saat anak berkata kasar, maka sudah sepantasnya orang tua meluruskan sikap anak agar tak menimbukan hal negatif di kemudian hari. Anak seharusnya tau bahwa kata yg diucapkannya tersebut tak pantas dan tak seharusnya ia gunakan.

Dampingi Saat Anak Bermain

Sebaiknya Anda menghindarkan anak dari lingkungan di mana berkata kasar dianggap sebagai sesuatu hal yg biasa. Akan tetapi bukan berarti Anda harus terus menerus mensterilkan lingkungan anak. Seiirng dengan berjalannya waktu tentu akan ada pengaruh dari lingkungna laur yg memang tak sesuai dengan nilai positif yg telah Anda tanamkan di rumah. Saat hal ini terjadi, tak ada hal lain yg bisa Anda lakukan selain memberikan pengertian pada anak dan menjelaskan padanya bahwa perilakunya tersebut salah

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Bila Anda Tak Menyukai Teman Anak

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Bila Anda Tak Menyukai Teman Anak

Saat anak Anda memiliki teman, maka pasti ada satu dua anak yg jadi favorite Anda, namun di sisi lain juga ada anak yg entah kenapa, Anda tak bisa menyukainya. Namun tak mudah mengakui bahwa Anda tak menyukai anak tersebut, seberapa buruk pun perilaku yg ditunjukkannya. Padahal masalah ini akan terus Anda alami dan akan makin kompleks seiring dengann bertambahnya usia anak.

Memang tidak gampang menghadapi perasaan tersebut, apalagi bila anak Anda ternyata sangat senang bermain dengan anak yg tidak Anda sukai tersebut. Bila hal ini terjadi pada Anda, apa sebaiknya yg Anda lakukan?

Pertama, Tanyalah Diri Anda Sendiri

Yg harus Anda lakukan, caritaulah kenapa Anda tak suka pada anak tersebut. Apa penyebabnya dan kapan hal tersebut mulai terjadi. Dengan mengetahui alasan kenapa Anda tak menyukainya, maka Anda bisa mengatasi perasaan ini. Tanamkan juga di perasaan Anda bahwa orang yg tak Anda sukai itu hanyalah anak- anak.

Pada dasarnya setiap orang memang memiliki perasaan alami mengenai tipe perilaku yg membuatnya tidak merasa nyaman. Akan tetapi anak- anak masih berada dalam masa mempelajari perilaku dan pola pikir yg akan membentuk mereka. Sebaiknya pisahkan antara satu perilakunya dengan individunya lantaran semua orang bahkan anak- anak memiliki sisi positif.

Jadilah Contoh Yang Baik

Sangat penting untuk mengenali keluhan spesifik pada teman anak Anda tersebut. Namun yg paling penting adalah berusaha untuk menjadi contoh yg baik pada anak- anak itu. Sebaiknya orang tua harus tetap konsisten dan jadi panutan yg baik dan jangan biarkan anak kecil itu tau bahwa Anda tak suka padanya.

Saat anak Anda mulai menunjukkan perilaku tak baik lantaran meniru temannya, sebaiknya ajaklah anak Anda bicara empat mata tanpa perlu mengajak temannya. Jelaskan pada anak Anda mengenai perilaku yg Anda harapkan dan jelaskan pada anak agar ia memahami kesalahan yg ia perbuat.

Jangan Menghukum Anak Orang Lain

Memang terkadang sulit mengabaikan perilaku tak pantas anak- anak yg ada di depan kita. Namun mendisiplinkan anak orang lain ada caranya. Anda tak bisa menghukumnya begitu saja karena itu bukan hak Anda. Akan tetapi ada beberapa cara yg bisa Anda lakukan agar anak tersebut menyadari kesalahan yg ia perbuat. Sebaiknya buat pernyataan yg tegas dan fokus pada perilakunya yang tak tepat agar ia menghentikan sikapnya tersebut.

Bicaralah Dengan Orangtuanya

Mngkin terdengar sedikit sulit karena pada dasarnya tak ada orang tua yg ingin mendengar anaknya dikatakan nakal oleh orang lain. Akan tetapi bila perilakunya sudah terlalu sering sebaiknya Anda mendikusikannya dengan orang tuanya.

Bila Anda peduli dengan keselamatan, bullying atau perilaku tak terpuji lainnya seperti mencuri atau berbohong, maka sebaiknya Anda perlu memberitahu orangtuanya. Namun agar diskusi dengan orang tua anak tersebut berjalan dengan lancar, sebaiknya fokuslah pada perilaku si anak dan jangan menyalahkannya.

 

Pada dasarnya dengan siapa anak Anda berteman memang masih jadi tanggung jawab Anda sebagai orang tua. Karena itu bila Anda menganggap perilaku anak berubah negatif, buatlah keputusan agar ia tak lagin bermain dengan teman- temannya.

Ajarkan Aturan Media Sosial Ini Pada Anak

Ajarkan Aturan Media Sosial Ini Pada Anak

Di era digital ini, media sosial bukan lagi suatu hal yg asing bagi masyarakat. Bahkan bagi para anak- anak. Sama sekali tak sulit bagi mereka untuk mengakses Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat dan lainnya. Bahkan tak jarang kita menemui para orang tualah yg membuatkan akun media sosial untuk buah hati mereka, beberapa diantaranya malah membuatnya sejak anak masih bayi.

Di satu sisi, keberadaan media sosial memang bisa menguatkan hubungan sosial anak dengna teman atau keluarga. Namun media sosial juga memiliki banyak dampak negatif. Salah satunya adalah hate speech atau bully yg kerap terjadi pada anak.

Tentu juga jadi perkara sulit melarang anak- anak untuk menjauh sepenuhnya dari media sosial. Apalagi bila lingkungan di sekitar mereka menuntu mereka untuk turut memilikinya. Karena itu sudah seharusnya orang tua memberikan petunjuk pada anak serta rambu- rambu sehingga media sosial tak jadi bahaya bagi kesehatan mental anak kelak.

Ingatkan Anak Untuk Tetap Hidup Di Dunia Nyata

Terkadang pengguna media sosial lupa diri dengan kehidupan yg mereka miliki di dunia maya. Padahal hidup seharusnya dijalani secara nyata bukan di belakang layar. Beberapa anak merasa sangat “besar” saat mereka memiliki banyak follower dan mendaptakan likes berlimpah disetiap postingan mereka. Namun harusnya hal ini tak membuat mereka mengabaikan dunia nyata.

Karena itu sebaiknya orang tua mengajarkan anak bagaimana cara berkomunikasi secara nyata dan mempersiapkan anak menjadi orang dewasa di kehidupan nyata. Berlatihlah berkomunikasi dengan anak. Ikut sertakan anak dalam berbagai macam kegiatan yg membuatnya berinteraksi dengan orang lain secara nyata.

Media Sosial Tempat Pamer

Bukan berarti Anda mengajarkan anak untuk pamer. Namun Anda perlu memberi pengertian pada anak- anak bahwa di media sosial orang memarkan kehidupan mereka yg tampak sempurna, dan menyembunyikan sebaliknya. Karena itu jelaskan pada anak- anak Anda bahwa tak ada kehidupan yg sempurna.

Dengan begitu anak akan memahami bahwa tak semua yg mereka lihat di media sosial tersebut adalah nyata. Bila mereka bisa memahami hal ini dengan baik, tentu mereka bisa menerima kenyataan bahwa kehidupan tak selamanya indah dan mewah seperti apa yg mereka lihat di media sosial. Mereka pun bisa lebih mensyukuri hidup ketimbang membandingkan keadaan mereka dengan orang lain.

Selalu Berpikir Sebelum Membagikan Konten

Tanamkan pada anak bahwa tak semuanya bisa mereka bagikan ke sosial media. Ajarkan pada anak untuk menanyakan beberapa hal pada diri mereka sendiri sebelum membagikan sesuatu. Misalnya seperti, “apakah ini penting? Apakah bermanfaat? Apakah ini baik?” atau semacamnya.

Diharapkan dengan cara ini anak akan jadi lebih bijak dalam membagikan konten ke media sosial mereka. Mereka akan selalu berpikir ulang sebelum mengunggah sesuatu atau menulis komentar. Bila merasa tak ada yg perlu dikatakan, maka sebaiknya tak usah katakan apa pun.

Media Sosial Bukan Pengganti Tatap Muka

Zaman sekarang banyak orang yg beranggapan bahwa berhubungan dengan teman lewat gadget sudah cukup. Akan tetapi faktanya layar kaca bukanlah pengganti koneksi orang. Karena itu pastikan anak- anak Anda tau bagaimana caranya menunjukkan  ketulusan secara langsung, menghibur seseorang dengan berada di samping mereka dan bagaimana caranya mengkespresikan perasaan mereka secara langsung, tanpa emoji.

Tak Ada Yang Privat Di Media Sosial

Beberapa media sosial memang menawarkan penggunanya untuk memprivatisasi konten mereka. Akan tetapi faktanya tak ada hal bersifat pribadi di media sosial, meski Anda sudah mengaturnya begitu. Karena itu sebaiknya hindarilah mengunggah nomor telepon, alamat rumah, nama lengkap atau identitas penting lainnya.

Begitu juga dengan konten pribadi seperti foto. Semua yg Anda masukkan ke internet, akan memiliki jejak. Artinya semua orang bisa mengaksesnya, bisa menyimpannya untuk diri sendiri bahkan membagikannya kembali pada orang lain.

Pro Dan Kontra Metode BLW Pada Bayi

Pro Dan Kontra Metode BLW Pada Bayi

Mungkin bagi sebagian orang istilah Baby Led Weaning atau BLW masih terasa tak familiar. Namun bagi para orang tua, terutama ibu, tentu pernah mendengar istilah ini. Belakangan BLW pun mendadak populer di tanah air menyusul seorang penyanyi kenamaan, Andien Aisyah, memutuskan menerapkan metode BLW pada bayinya. Keputusannya ini pun menuai pro dan kontra di antara para netizen terutama para ibu.

Metode BLW sendiri sebenarnya adalah alternatif pemberian MPASI pada bayi. Tidak seperti metode kebanyakan yg memperkenalkan bayi pada makanan bertekstur lunak hingga padat secara bertahap, metode BLW ini justru membiarkan bayi memilih dan makan makanan padat sendiri dengan tangannya.

Lewat metode ini, pemberian makanan berbentuk bubur saat memperkenalkan MPASI tak dilakukan, melainkan langsung memperkenalkan bayi dengan makanan padat yg bisa digenggam sendiri oleh bayi. Metode BLW sendiri dipelopori oleh Gill Rapley sekitar 10 hingga 15 tahun yg lalu. Ide awal dari BLW  adalah konsep back tu nature, yaitu bayi akan menyapih dengan sendirinya setelah selesai ASI eksklusif.

Para ahli yg pro dengan metode BLW ini mengatakan bahwa metode ini akan membantu bayi lebih mandiri lantaran tidak ada campur tangan orang tua dalah memilih dan menyuapi makanan. Menurut mereka anak yg dibiarkan memilih makanannya sendiri juga dipercaya akan tumbuh menjadi anak yg gampang makan apa saja, termasuk sayur dan buah.

Meski begitu, para dokter juga tidak menganjurkannya lantaran manfaat BLW ini masih belum pernah diteliti dalam skala besar. Hingga saat ini studi- studi tentang BLW juga baru sebatas studi observational dalam kelompok- kelompok kecil.

Karena itu kebanyakan dokter anak memiliki pandangan bahwa dalam pemilihan metode MPASI sebaiknya orang tua tetap berpedoman pada panduan WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, yaitu ASI eksklusif 6 bulan dan mulai diperkenalkan pada makanan lembek dan secara bertahap memberikan makanan kasar hingga usia 12 bulan hingga anak siap mengkonsumsi makanan keluarga.

Tak bisa kita pungkiri bahwa metode pemberian ASI memang adalah hak pregoratig para ibu, akan tetapi tetap harus memperhatikan beberapa hal. Perlu diingat bahwa usia bayi hingga 2 tahun adalah periode tumbuh kembang emas, dan yg paling krusial pada periode ini adalah nutrisi yg didapatkan oleh anak.

Hal Terpenting Dari MPASI Adalah Kecukupan Nutrisi

Hal yang paling penting dalam pemberian MPASI adalah kecukupan nutrisinya. Saat ASI ekslusif berakhir, maka kebutuhan gizi anak tak lagi dapat dipenuhi oleh ASI sehingga harus didapatkan dari makanan pendamping. Jumlahnya tentu harus cukup. Di dalamnya pun harus terkandung energi, protein, makronutrien, serta mikronutrien.

Para pakar mengkhawatirkan, bila bayi mendapatkan MPASI dengan metode BLW, dikhawatirkan ia tak akan mendapatkan nutrisi dalam jumlah yang mencukupi. Biasanya menu dalam BLW adalah buah atau sayuran yg dikukus. Padahal bayi juga butuh protein hewani sebagai sumber zat besi. Sementara bayi tak akan mungkin mengkonsumsi daging dalam bentuk padat.

Di samping itu bayi yang berusia kurang dari satu tahun biasanya belum terlalu mahir mengunyah lantaran giginya juga belum lengkap. Mereka belajar makan dengan caran menghisap makanan yg digenggamnya sehingga ada resiko jumlah yg masuk ke dalam tubuh hanya sedikit.

Selain itu perlu diingat bahwa pemberian makanan pendamping ASI pada bayi juga harus disesuaikan dengan kemampuan fisik, oromotik, kesiapan saluran pencernaan dan juga emosi anak.

Ternyata Tantrum Bisa Bermanfaat Bagi Anak

Ternyata Tantrum Bisa Bermanfaat Bagi Anak

Hampir setiap orang tua pasti pernah melihat anaknya mengalami Temper Tantrum atau yg lebih kita kenal dengan sebutah tantrum. Keadaan ini adalah saat anak marah sambil menjerit dan menangis bahkan memuku atau melempar barang. Sebenaranya hal ini sendiri adalah hal yg sangat wajar untuk dialami oleh balita.

Sementara itu, walau sudah berkali- kali menghadapi kondisi anak yg seperti ini, orang tua kadang tetap tak bisa mengontrol diri mereka dengan baik untuk menenangkan anak. Apalai bila tantrum terjadi di tempat umum. Biasanya orang tua akan merasa panik lantaran mereka tak bisa mengendalikan sang anak, dan malah membuat kondisi anak semakin buruk.

Percaya atau tidak, tantrum pada balita sebenaranya adalah bagian penting dalam kesehatan emosional balita. Saat anak mengamuk, hal tersebut juga bisa menjadi kesempatan orang tua untuk bejalar lebih tenang menghadapinya.

Amarah Sebaiknya Dikeluarkan

Air mata mengandung kortisol yg merupakan hormon stress. Saat Anda menangis sebenarnya Anda sedang melepaskan stress dari tubuh. Air mata juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah serta bisa memperbaiki mood Anda.

Begitu juga halnya dengan balita. Saat anak Anda sedang mengalami tantrum, ia merasa tak ada yg benar. Ia merasa marah, frustasi dan karena itu ia jadi melampiaskannya dengan teriakan, rengekan dan lainnya. Namun setelah tantrumnya reda, ia pun akan memiliki mood yg jauh lebih baik. Karena itu sebaiknya jangan menginterupsi saat anak Anda sedang tantrum agar ia bisa memproses perasaannya.

Menangis Memberi Anak Pelajaran

Seringkali saat anak tengah berusaha melakukan suatu dan tak berhasil, ia akan mengekspersikan rasa frustasinya dengan menangis. Taukah Anda bahwa cara ini ternyata bisa membantu anak belajar hal baru? Belajar adalah hal yg alami pada anak, sama halnya seperti bernapas. Pada saat anak Anda tak bisa berkonsentrasi atau mendengar, maka biasanya ada masalah dengan emosinya sehingga perkembangannya jadi terhambat.

Tidur Anak Jadi Lebih Nyenyak

Gangguan tidur bisa terjadi saat orang tua menganggap bahwa tantrum harus dihindari  anak mereka. Padahal emosi tersebut bisa meledak saat otaknya tengah beristirahat. Seperti orang dewasa, anak- anak juga bisa mengalami sulit tidur lantaran stress atau sedang memproses sesuatu dalam hidupnya.

Oleh karena itu, dengan membiarkan anak tantrum sampai ia tenang akan meningkatkan rasa tenang sehingga ia pun bisa tidur nyenyak pada malam hari.

Berkata “Tidak” Bukan Kesalahan

Kadang anak bisa jadi tantrum saat orang tua berkata “tidak” pada permintaannya. Hal tersebut adalha hal yg baik. Dengan berkata tidak dan konsisten terhadap hal tersebut maka anak bisa mengetahui batasan mengenai perilaku yg baik dan yg tidak. Berani mengatakan “tidak” pada anak juga menunjukkan bahwa orang tua tidak takut menghadapi reaksi anak dan emosinya.

Anak Merasa Nyaman Mengungkapkan Perasaannya

Walau menghadapi anak yg tantrum sering dianggap menyebalkan bagi para orang tua, seharusnya Anda menerimanya sebagai sebuah hadiah. Dalam kebanyakan kasus, tantrum adalah ekspresi anak terhadap kata “tidak” orang tua mereka.

Namun Anda bisa tetap tegas dan membantu anak menghadapi rasa kecewanya sekaligus. Dengan begitu anak akan merasa bahwa cinta orang tuanya dan hubungannya dengan orang tua memang ia butuhkan. Membiarkan anak mengalami tantrum juga bisa jadi hadiah agar ia bisa melepaskan rasa frustasinya.

Membuat Anda Lebih Dekat Dengan Anak

Bila diukur tanpa pertimbangan mendalam, sepertinya hal ini terasa mustahil. Akan tetapi sebenarnya pada saat anak Anda mengamuk dan meminta orangtuanya pergi, sebenarnya ia sangat berharap Anda akan tetap berada di sampingnya.

Karena itu hindari kata- kata kasar atau kekerasan fisik agar membuat ia kembali tenang. Dengan begitu anak akan merasa dirinya diterima apa adanya dan hal tersebut membuatnya lebih dekat dengan orangtuanya.

Mengatur Emosi

Terkadang emosi anak keluar dalam berbagai macam cara. Misalnya saja agresif, sulit berbagi atau menolak melakukan perintah sederhana. Taukah Anda bahwa ini adalah beberapa tanda bahwa si kecil sedang merasa kesulitan dengan emosinya. Karena itu dengan mengalami ledakan tantrum Anak akan terbantu dalam melepaskan perasaannya sehingga ia pun bisa memahami dirinya dengan lebih baik.

Bijaksanalah Membagikan Foto Anak Di Sosmed

Bijaksanalah Membagikan Foto Anak Di Sosmed

Semua orang tua pasti merasa bangga dengan anaknya. Apalagi saat usia sang anak sedang tengah lucu- lucunya dan sangat menggemaskan. Biasanya para orang tua ini tak akan tahan untuk tak membagikan foto- foto menggemaskan sang buah hati ke media sosial. Padahal sebaiknya Anda menghindari hal ini demi keselamatan sang buah hati.

Belakangan rata- rata seorang anak memiliki 1.500 foto dirinya di internet saat baru menginjak usia 5 tahun. Terkejut? Hal ini sebenarnya tak terlalu mengherankan lantaran saat seorang bayi lahir biasanya orang tua akan sibuk memotret dan mengunggah foto sang anak ke akun media sosial mereka.

Bahkan sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa satu dari lima orangtua mengunggah foto anaknya paling tidak satu kali dalam sebulan. Selebriti disebut sebagai kelompok yg paling rajin memamerkan foto buah hati mereka. Bahkan beberapa diantara mereka dengan sengaja membuat akun khusus untuk anak mereka yg bahkan baru berusia satu hari.

Sudah sangat banyak ahli psikologi dan juga pakar parenting yg melarang hal tersebut. Menurut para ahli dari NSPCC yg merupakan organisasi terkemuka dari Inggris yg bergerak di bidang pencegahan kekerasan pada anak, sebaiknya orang tua berpikir dua kali sebelum mengunggah foto buah hati mereka di internet.

Sebagai orang tua sebaiknya Anda berpikir lebih dalam, apakah anak Anda akan bahagia saat Anda mengunggah fotonya. Bisa jadi justru di kemudian hari si anak justru merasa malu dengan semua fotonya yg beredar di internet. Bila Anda tidak yakin dengan hal ini maka hal yg paling bijak yg bisa Anda lakukan adalah jangan mengunggah foto sang anak.

Namun masih ada cukip banyak orang tua yg memang dengan sengaja tak mau mengunggah foto atau pun video anak mereka yg masih kecil lantaran ingin menjaga privasi. Dari sekitar 1.000 orang tua yg disurvei, sebanyak 38 persen mengatakan bahwa mereka sadar kemungkinan anak- anaknya tak akan suka bila foto atau video mereka ditampilkan di media sosial orangtuanya. Sementara  itu 80 persen diantaranya mengatakan bahwa mereka sangat membatasi orang yg bisa melihat foto tersebut.

Selain Faktor Keamanan, Orang Tua Juga Harus Menghargai Privasi Anak

Taukah Anda bahwa saat kita mengunggah foto anak-anak, kita sedang membuat jejak digital. Setiap hal yg diunggah ke internet berarti bisa diakses pula oleh orang lain dan material tersebut tak lagi menjadi milik pribadi. Foto yg Anda unggah ke internet juga bisa diduplikasi oleh orang lain, disimpan bahkan dipakai oleh orang lain tanpa sepengetahuan dan izin Anda.

Bahkan sebuah foto yg terlihat lugu pun bisa keluar dari konteks saat berada di tangan orang yg salah. Unggahan foto Anda ke internet juga bisa mengungkapkan identitas anak Anda, seperti sekolahnya atau alamat rumah Anda.

Tentu hal ini sangat berbahaya bila ada orang yg berniat jahat pada anak Anda. Contohnya saja penculik atau pedofil yg saat ini sedang tengah menjadi masalah besar di masyarakat kita. Untuk mencegah hal tesebut sebaiknya orang tua mengubah pengaturan media sosial mereka menjadi private sehingga orang yg bisa melihat sangat terbatas. Selain itu sebaiknya jangan pernah mengaktifkan lokasi tempat Anda mengambil foto sehingga lokasi Anda tak akan bisa dilacak oleh orang berniat buruk.

Selain masalah keamanan sebaiknya orang tua juga harus menghormati privasi anak- anak mereka. Taukah Anda bahwa di Perancis orang tua bisa dihukum penjara dan denda hingga 67.000 dollar AS bila mereka mengunggah foto anak mereka tanpa izin.

Mulai Sekarang Perhatikan Setiap Coretan Anak Anda

Mulai Sekarang Perhatikan Setiap Coretan Anak Anda

Pada dasarnya setiap anak suka menggambar walau hanya sekedar coretan- coretan abstrak. Anda bisa pergi ke kumpulan anak- anak, dan hampir dipastikan mereka semua tak akan menolak saat diberikan kertas dan alat tulis.

Pernahkah Anda memperhatikan coretan- coretan yg dibuat oleh para buah hati Anda? Kebanyakan orang tua mungkin akan menjawab tidak lantaran menurut mereka coretan yg dibuat anak hanyalah sekedar gambar- gambar tak beraturan yg tak ada artinya.

Akan tetapi sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada alasan ilmiah yg menunjukkan apakah anak Anda memiliki bakat menjadi orang sukses lewat apa yg ia gambarkan lewat coretan- coretan yg ia gambarkan tersebut.

Pada tahun 2016 lalu, sebuah studi dilakukan pada anaka yg berusia antara 7 hinngga 9 tahun menemukan fakta bahwa anak yg berbakat umumnya menyertakan detail- detail khusus saat ia menggambar sosok manusia. Nah, bila anak Anda ternyata menggambarkan detail- detail ini maka bisa jadi ia memiliki bakat jenius.

Para peneliti yg melakukan analisa gambar- gambar yg dibuat oleh 120 orang anak mengidentifikasi 30 detail kunci yg bisa jadi pertanda bakat lahir yg dimiliki oleh anak. Dari total 47 orang anak berbakat yg dilibatklan dalam study tersebut ternyata 43 persen di antaranya menggambarkan hal- hal khusus pada coretan mereka.

Hal- hal tersebut antara lain adalah riasan mata, ingus, kerutan kulit, janggut tipis, kawat gigi, dasi, badge, bulu- bulu di tangan, sarung tangan, cincin atau dompet berantai. Selain detail tersebut, peneliti juga mencatat bahwa anak yg berbakat menggunakan pendekata berbeda saat menggambar orang. Tidak seperti pose yg umum, mereka menggambar dengan pose yg cenderung unik. Misalnya saja orang dengan tangan dimasukkan dalam kantong atau tangan di belakang.

Bakat Lebih Besar Daripada Kecerdasan

Walau begitu, jangan keliru dengan menganggap hal ini sebagai ukuran kecerdasan anak. Penelitian ini tidak mengukur IQ, akan tetapi hanya melihat tanda- tanda bakat yg dimiliki oleh anak. Menurut para peneliti ini apa yg dianggap bakat ini lebih besar dari pada kecerdasan.

IQ atau tingkat kecerdasan umumnya hanya menguji apakah jawaban seseorang salah atau benar. Akan tetapi bakat diukur lewat banyak hal, salah satu indikator yg biasa digunakan adalah kreativitas. Sangat penting juga untuk mengingat bahwa tak semua anak berbakat akan membuat gambar- gambar khusus seperti itu. Detil pada gambar yg ditunjukkan oleh anak ini hanyalah salah satu indikator bahwa anak memiliki pengamatan secara detail dan lebih kreatif dalam menggambarkannya.

Namun apabila Anda mendapati tanda- tanda khusus seperti di atas pada gambaran buah hati Anda, maka sebaiknya Anda berbahagia karena barangkali si kecil memiliki bakat untuk menjadi orang sukses. Tentu Anda harus melakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui kepastiannya. Bila anak Anda memang berbakat, pastikan Anda membantunya untuk mengembangkan bakatnya.

Mengatasi Balita Yang Suka Memukul

Mengatasi Balita Yang Suka Memukul

Anak yg berusia di bawah lima tahun atau balita terkadang bisa menunjukkan perilaku yg sangat kasar seperti senang memukul, menggigit atau melempar orang lain. Memang, mereka hanyalah anak- anak yg kemungkinan belum tau apa yg salah dan apa yg benar. Namun begitu bukan berarti orang tua harus mengabaikan kebiasaan buruk anak ini, walau sang anak masih sangat kecil.

Kebanyakan balita memang menunjukkan perilaku agresif saat mereka tengah merasa frustasi. Keinginannya untuk melakukan sesuatu sayangnya lebih besar dari kemampuannya. Biasanya mereka melakukan tindakan agresif ini saat ingin mengomunikasikan kebutuhan dan kemauannya, namun kemampuan bicara mereka masih terbatas.

Umumnya anak yg berusia di bawah tiga tahun juga terkadang menunjukkan sikap agresif untuk melepaskan rasa marahnya, untuk mengontrol situasi atau menunjukkan kekuatannya untuk melindungi mainannya atau sesuatu yg berharga baginya.

Balita biasanya juga terkadang menganggap perilaku seperti mencubit atau memukul sebagai alat komunikasi. Walau begitu orang tua harus mengajari anak mana bentuk komunikasi yg tepat dan bisa diterima secara sosial dan mana yg tidak bisa diterima dengan baik. Terkadang gerak tubuh yg tidak tepat sejak mereka masih berusia sangat dirii akan terus berlanjut hingga mereka balita. Karena itu orang tua harus bisa memberikan pemahaman dan pengertian pada anak agar ia tau tindakannya salah.

Lantas apa yg sebaiknya dilakukan oleh orang tua bila Anak sedang marah dan menunjukkan agresifitasnya? Berikut adalah beberapa hal yg tepat dilakukan oleh orang tua bila hal ini terjadi.

Ketahui Pemicunya

Cobalah cari tau apa yg terjadi pada si kecil. Bisa jadi ia merasa lapar atau mungkin mengantuk. Atau mungkin ia merasa ketakutan dan marah. Bila Anda sudah mengetahui situasi yg dihadapi oleh sang buah hati cobalah untuk mengubah situasi tersebut dan buatlah ia merasa nyaman kembali.

Berikan Contoh Komunikasi Yang Baik

Pada saat anak menginjak usia 2 atau 3 tahun maka ia akan belajar mengenai perilaku normal dari lingkungan sekitarnya, baik orang tua atau pun orang lain yg ada di sekitarnya dan juga teman- temannya. Bila ada banyak temannya yg berperilaku agresif, batasilah waktu bermainnya dengan mereka.

Beri petunjuk alternatif berkomunikasi pada anak selain menggunakan tangannya. Berikan pengertian bahwa memukul itu tidak baik dan beritahu ia apa yg akan terjadi saat ia memukul orang lain. Tunjukkan ekspresi tak suka saay ia memuku dan sebaliknya tunjukkan wajah senang saat ia memeluk. Dengan begituanak akan belajar bahwa perilaku yg baik akan mendapatkan respon yg baik pula.

Berikan Panduan Padanya

Bila biasanya anak Anda adalah pribadi yg tenang dan tiba- tiba ia berubah jadi agresif, maka segera cari tau apa yg jadi penyebabbya. Cari tau apakah ia meniru perilaku tersebut dari kakaknya, temannya atau orang lain yg ia lihat. Dengan begitu Anda bisa segera menyingkirkan yg jadi penyebab ini dan mulai menjelaskan padanya bahwa apa yg ia lakukan adalah hal yg salah.

Apabila suatu waktu ia kedapata memukul temannya maka gunakanlah kesempatan tersebut untuk mengajarinya meminta maaf. Dan jangan pernah bosan memberi tauhnya mengenai perilaku yg sopan dan baik. Hindari juga memarahinya agar ia bisa belajar bagaimana mengendalikan perilakunya.