Baby Blues Ternyata Juga Dialami Oleh Ayah

Baby Blues Ternyata Juga Dialami Oleh Ayah

Tentu mengetahui akan datangnya buah hati adalah hal yg sangat membahagiakan bagi pasangan. Saat tes kehamilan menunjukkan  hasil positif maka, tentu rasa suka cinta akan datang. Akan tetapi faktanya berita bahagia ini juga bisa memicu emosi negatif pada beberapa pasangan.

Selain rasa bahagia, biasanya pasangan yg tengah menanti kedatangan buah hati ini juga akan mengalami beberapa jenis gangguan psikologis seperti rasa cemas, takut atau peningkatan emosi lainnya. Bahkan beberapa ibu baru juga mengalami gangguan psikologis seperti baby blues pasca melahirkan.

Baby blues adalah hal yg lazim terjadi pada seorang ibu baru. Tingkatannya pun berbeda- beda tergangung pada kondisi sang ibu dan lingkungan sekitarnya.  Biasanya baby blues akan hilang seiring dengan waktu bila sang ibu mendapatkan bantuan dari orang di sekitarnya. Namun bisa juga baby blues menjadi parah dan memicu Post Partum Depression.

Belakangan ditemukan fakta bahwa baby blues ini tak hanya terjadi pada bara calon ibu dan ibu baru, namun juga bisa menimpa bakal ayah atau pria yg baru menjadi ayah. Para ilmuwan dari McGill University di Kanada menyebutkan bahwa 13 persen dari ayah baru mengalami depersi selama pasangan mereka tengah hamil. Penemuan ini dinilai bisa memiliki implikasi klinis y gpenting untuk skrining depresi dan upaya pencegahan dini depersi.

Hingga saat ini kesehatan mental pria pun masih diabaikan dalam penelitian dan juga kurang ditangani selama transisi mereka menjadi orangtua. Namun dengan penemuan di Kanada tersebut maka kesadaran calon orang tua bisa meningkat. Selain itu hal ini juga dinilai akan sangat berguna bagi penyedia layanan kesehatan yg berhubungan dengan pasangan selama prenatal.

Penelitian Ini Bisa Membantu Calon Ayah Menghindari Post Partum Depresion

Para peneliti ini merekrut kurang lebih 622 orang di Quebec selama 18 bulan untuk mengambil bagian dalam studi mereka. Para calon ayah ini menyelesaikan kuesioner secara online mengenai berbagai aspek, seperti suasana hati mereka, aktivitas fisik, kualitas tidur, dukungan sosial, penyesuaian perkawinan, keadaan finansial dan juga demografi.

Kuisioner ini dibagikan pada para calon ayah pada trimester ketiga pasangan mereka mengadung. Dari hasil tersebut ditemukan bahwa 13, 3 persen dari calon ayah mengalami peningkatan kadar gejala depresi selama kehamilan pasangan mereka.

Peneliti juga menemukan fakta bahwa waktu tidur terkait dengan depresi, terutama dalam bidang penelitian ini. Pria yg mengalami kesulitan untuk tidur adalah yg paling beresiko mengalami depresi. Masalah tidur pada pria juga bisa jadi sinyal penting lantaran beberapa faktor diektahui bisa memperburuk post partum depresi atau depresi pasca kelahiran. Para peneliti juga mengatakan bahwa depresi antenatal atau depresi yg dialami selama kehamilan adalah prediktor terkuat untuk depresi postnatal.

Karena itu untuk menghindari rasa stress pada ayah baru ini, sebaiknya calon ayah melakukan screening kesehatan mental sejak dini agar bisa mengurangi resiko atau kelanjutannya dari depresi postpartum.