Apakah Pantas Mengeluarkan Pelaku Bully Dari Sekolah?

Apakah Pantas Mengeluarkan Pelaku Bully Dari Sekolah?

Bullying belakangan menjadi salah satu kasus paling menarik perhatian di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir terjadi cukup banyak kasus bullying yg sangat memprihatinkan. Bullying kerap dianggap sepele, namun faktanya bullying bisa berdampak sangat besar dan bisa merusak seorang anak hingga ia tumbuh dewasa.

Belum lama ini dunia pendidikan kembali heboh saat sebuah video bullying beredar di sosial media. Tindakan bullying ini diketahui dilakukan oleh sekelompok siswi SD dan SMP di pusat perbelanjaan. Tindakan yg mereka lakukan pun terbilang sangat miris.

Kasus tersebut pun akhrinya mereda saat Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat mengeluarkan sembilan siswa SD dan SMP yg terlibat dalam peristiwa tersebut. Mereka juga kehilangan hal mereka atas Kartu Jakarta Pintar yang sebelumnya mereka miliki.

Walau begitu banyak pihak yg menilai bahwa hukuman yg diberikan tersebut belum tentu bisa memberikan efek jera pada para pelaku bullying. Mengeluarkan para pelaku ini dari sekolah adalha tindakan yg tidak mendidik anak untuk memperbaiki perilaku mereka yg salah.

Bahkan sanksi ini dinilai tak akan terlalu memberi efek jera bagi para pelaku yg berada dalam kelompok ekonomi mampu. Soalnya mereka tentu akan merasa tak terlalu risau lantaran dikeluarkan dari sekolah, lantaran yakin mereka masih akan mendapatkan sekolah lain tanpa kesulitan.

Namun efeknya akan berbeda saat pelaku bullying ini berasal dari keluarga yang tak mampu. Banyak kalangan yg merasa akan sangat berat bagi mereka bila dikeluarkan dari sekolah. Mereka tetap membutuhkan pendidikan. Kesulitan mendapatkan sekolah baru akan berpotensi membuat mereka putus sekolah dan akan muncul masalah baru.

Tak Hanya Memberikan Hukuman, Guru Dan Orang Tua Harusnya Membuat Anak Memahami Kesalahannya

Karena itu sebaiknya ada tahapan berjenjang dari pihak sekolah bersangkutan dalam memberikan sanksi pada anak didik mereka yg melakukan bullying. Harusnya para pelaku dipanggil, dimintai klarifikasi dan diminta untuk meminta maaf pada korbanya.

Tentu akan lebih baik bila mengajarkan anak didik untuk meminta maaf saat mereka berbuat kesalahan. Bahkan dalam hukum pun ada proses yg harus dilalui sebelum sebuah vonis dijatuhkan. Karena itu sekolah tak bisa menerapkan zero tolerance saat seorang anak melakukan suatu tindakan seperti bullying atau kekerasan.

Hal yg paling tepat adalah dengan memberikan pelaku kesempatan untuk memperbaik diri. Pada dasarnya seseorang pasti akan berubah ke arah yg lebih baik bila ia mendapakan bimbingan yg benar.

Sebaiknya berikan bantuan secara sistematis pada anak yg melakukan tindakan bullying. Salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman bahwa tindakan yg telah dilakukannya itu salah dan merugikan orang lain. Jadi tidak sekedar memberikan hukuman namun juga membuat anak memperbaiki didrinya menjadi lebih baiik.

Perlu diketahui, anak yg menjadi pelaku bullying biasanya juga merasa diri mereka adalah korban sehingga mereka tak merasa salah saat membalas. Namun sayangnya kebanyakan orang tua tak memberikan pemahaman yg baik pada anak mengenai apa yg harus mereka lakukan saat mendapat celaan dari temannya. Mengajarkan anak tidak membalas bullyian orang lain akan menghentikan lingkaran kekerasan yg tidak putus ini.

Para pelaku bullying yg dikeluarkan dari sekolah tersebut tentu harus mendapatkan pendidikan dan melanjutkan sekolah mereka. Namun perlu dipastikan juga bahwa mereka tak akan mendapatkan bullyian di tempat baru mereka lantaran perbuatan yg mereka lakukan sebelumnya.